Kematian bayi merupakan salah satu isu yang dibicarakan di banyak
negara. Padahal angka kematian bayi sebenarnya bisa ditekan dengan cara
yang sangat sederhana, yakni dengan memberikan air susu ibu (ASI) kepada
bayi.
Menurut data UNICEF, dari 135 juta bayi yang lahir setiap
tahun di seluruh dunia, hampir 83 juta bayi tak memperoleh pengusuan
yang optimal. Mia Sutanto selaku Ketua Umum Asosiasi ibu Menyusui
Indonesia (AIMI) menjelaskan pemberian ASI selama enam bulan enam bulan
pertama bayi hingga dilanjutkan selama dua tahun bersama dengan
pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) yang cukup gizi menjauhkan
angka kematian.
"Makanan yang optimal, mulai IMD, ASI eksklusif,
MPASI, dan ASI yang diteruskan selama 2 tahun dapat menurunkan risiko
kematian bayi", jelas Mia saat ditemui pada acara yang diselenggarakan
oleh Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) dengan tema Pentingnya
Berinvestasi pada Proses Ibu Menyusui Bayi, di De Resto - Plaza
Festival, Jl HR Rasuna Said Kav. C22, Jakarta, Kamis (27/2/2014).
Tentunya
ini menjadi perhatian bagi pemerintah dalam meningkatkan gizi, termasuk
mengupayakan dan mendukung para ibu dalam memberikan ASI pada bayinya.
Pemerintah, menurutnya, perlu berinvestasi dalam program-program yang
mengutamakan kepentingan anak dengan estimasi sebesar US$17,5 miliar.
Kegiatan ini bisa dibantu oleh WBCI yang menyediakan 'alat perencanaan
finansial' dalam merencanakan dan memprioritaskan langkah-langkah yang
efektif.
Angka harapan hidup Indonesia dari tahun 1971 naik,
namun mulai melandai pada tahun 2010. Sementara angka kematian bayi dan
anak turun cukup baik, namun melandai sejak 2002 sampai 2012. Badan
Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyebut ada
hubungan antara kematian bayi dan tingkat kesehatan. Karena jika angka
kematian bayi tinggi, berarti ada masalah pada kesehatan masyarakat yang
menyebabkan terkendalanya peningkatan angka harapan hidup.