Oleh Sawitri Supardi Sadarjoen
Kemampuan
manusia untuk menghindari stres yang terbaik adalah dengan tidur. Pada
masa istirahat, saat kita tidur, terjadi proses perbaikan dalam hal
kebugaran tubuh. Setelah terbangun, badan terasa segar.
Namun,
masalah tidur dan perolehan kebugaran karena cukup tidur ternyata bukan
hal yang sederhana. Sementara itu, insomnia adalah gejala yang
bertentangan dengan hal tidur.
Penderita insomnia mendapat
kesulitan untuk tidur nyenyak. Ia akan tidur sekejap untuk kemudian
mudah terbangun lagi, sering terbangun oleh mimpi buruk sehingga saat
terbangun di pagi hari badan terasa lelah, tidak bergairah, dan diliputi
keengganan untuk memulai bekerja.
Memang banyak orang yang
merasa sulit tidur jika baru satu malam berada di tempat yang asing atau
terpaksa menggunakan peralatan tidur yang berbeda. Sulit tidur seperti
itu tidak dapat dikatakan sebagai insomnia. Insomnia adalah gejala sulit
tidur yang bersifat kronis.
Kecemasan
Insomnia
sering tidak dapat diatasi hanya dengan sekadar obat tidur karena
kaitan insomnia dengan kondisi kecemasan psikologis sangat kuat. Bahkan,
insomnia itu sendiri justru merupakan gejala yang bisa muncul oleh
bermacam konflik emosional yang diderita seseorang. Jadi, gejala
insomnia bukanlah gejala tunggal, kecuali pada gangguan tidur yang
disebabkan oleh luka organik pada sistem saraf pusat atau perkembangan
penyakit saraf sistemis, tetapi juga merupakan indikasi dari kondisi
neurotik.
Karena itu, untuk kasus insomnia, para dokter
hendaknya bekerja secara tim dengan psikolog klinis agar proses
percepatan upaya penyembuhan penderita insomnia dapat dilakukan dengan
hasil yang lebih optimal. Seba, siapa tahu sumber utama keluhan insomnia
justru terletak pada aspek kepribadian penderita itu sendiri.
Upaya menyiasati insomnia
Dari
penjelasan di atas, kita memahami bahwa tidak adanya rasa tenang dan
aman secara psikologis menyebabkan ketegangan emosi berlanjut yang bisa
menjadi salah satu penyebab seseorang menderita insomnia. Namun,
terkadang upaya sederhana yang terurai di bawah ini dapat membantu
meringankan gejala insomnia bahkan dapat menyembuhkan insomnia.
1.
Cobalah membuat diri rileks satu jam menjelang tidur dengan
mendengarkan musik yang lembut atau membaca cerita ringan yang tidak
merangsang gejolak emosi.
2. Hindarilah aktivitas fisik yang
melelahkan sebelum tidur. Rencanakan kegiatan menyikat gigi, aktivitas
di toilet, dan membersihkan tubuh satu jam sebelum tidur.
3. Jika
terasa sulit tidur, lebih baik berbaring diam melepas lelah daripada
gelisah dan membalik-balikkan badan di tempat tidur karena tidur tidak
akan datang. Tidur merupakan aktivitas yang datang dengan sendirinya
secara rileks dan lembut, bukan hasil perjuangan yang keras. Jadi,
semakin tubuh bergerak gelisah semakin jauh kemungkinan kita bisa
tertidur dengan nyenyak.
4. Setiap masa tidur selalu akan
ditandai oleh gerakan tubuh setelah jeda waktu tertentu. Waktu tidur
yang tenang tanpa gerakan terjadi hanya sekitar 12 menit, untuk kemudian
gerakan tubuh tertentu saat tidur membuat seseorang terbangun
tiba-tiba. Namun, terbangun beberapa kali oleh gerakan tubuh bukan
berarti telah terjadi gangguan tidur. Jadi, jangan terlampau cepat
mengambil kesimpulan bahwa kita susah tidur.
5. Dengan cepat
mengambil kesimpulan bahwa kita sulit tidur, tanpa disadari kita
mengantisipasi diri untuk mendapatkan gangguan tidur saat waktu tidur
tiba.
6. Melepaskan diri dari gangguan tidur dapat kita peroleh
dengan berupaya menerima hal itu dengan jiwa besar, tanpa perlawanan
keras dengan mengatakan kepada diri, misalnya, saya harus bisa tidur
malam ini, atau mengucapkan kalimat seperti: ”Wah, hari sudah gelap,
saya takut tidak bisa tidur lagi malam ini.”
Berbagai ungkapan
yang mengantisipasi diri untuk tidak bisa tidur akan justru membuat kita
sulit tidur. Semakin dilawan atau semakin ditakuti, ketegangan emosi
oleh perlawanan dan ketakutan tersebut membuat justru kita benar-benar
sulit tidur.
7. Jika kita menyadari bahwa ada masalah yang belum
terselesaikan, hendaknya kita cari bantuan profesional untuk mendapat
solusi yang tepat. Yakinkan diri kita bahwa melalui ketekunan akan dapat
menyelesaikan masalah yang selama ini mengakibatkan ketegangan emosi
yang berperan dalam insomnia yang diderita.
Solusi yang kita peroleh akan menurunkan ketegangan emosi secara bertahap dan insomnia pun secara bertahap akan dapat teratasi.
SIAPA di antara Anda yang tidak ingin menjadi kaya?
Kaya di sini tentu saja dalam artian memiliki aset yang lebih dari cukup, baik itu aset likuid maupun nonlikuid. Tapi, sebagian dari Anda boleh jadi akan menjawab bahwa kekayaan bukan hal penting. Yang terpenting adalah bagaimana bisa hidup bahagia.
Anda benar, tetapi memiliki aset yang memadai juga penting, kendati bukan hal terpenting. Sebab, tidak sedikit kalangan yang hidupnya malah hanya mengejar kekayaan, dan akhirnya terjebak dalam paradigma uang adalah segalanya. Yang benar adalah bagaimana menjadi seimbang, yakni berupaya memiliki kekayaan secara wajar dan halal serta mampu menikmati dan memanfaatkannya. Konkretnya, enggan memiliki kekayaan juga bukan hal benar, namun berupaya meningkatkan kekayaan dengan segala cara lebih tidak benar.
Untuk tidak terjebak pada makna kekayaan, baik dalam pandangan yang menganggap kekayaan adalah segalanya dan juga sebaliknya, tidak salah jika kita cermati beberapa mitos yang mengemuka dalam masyarakat berkaitan dengan uang ataupun kekayaan.
Pertama,
uang tidak pernah cukup, maka harus dikejar terus.
Mitos ini salah kaprah, karena pada galibnya uang selalu cukup sepanjang kita tahu bagaimana memanfaatkan dan mengelolanya. Untuk mengelola uang hingga bisa bertumbuh dan menjadi cukup, selayaknya setiap orang memiliki perencanaan bagaimana mencari dan menggunakan uang.
Salah satu cara yang paling sederhana adalah menentukan lebih dulu berapa uang yang Anda perlukan untuk memenuhi kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Memang, tingkat kebutuhan setiap orang beda, namun yang penting Anda harus menentukan sesuai dengan tingkat kehidupan yang Anda inginkan.
Setelah itu, Anda tentu akan mencari penghasilan. Di sini yang perlu Anda pastikan bukan mencari penghasilan sebesar-besarnya, melainkan bagaimana Anda memiliki kemampuan menghasilkan uang secara langgeng dan mampu memenuhi kebutuhan hidup Anda.
Jadi, bukan bagaimana mencari uang sebanyak-banyaknya, melainkan mengondisikan keadaan sehingga Anda memiliki uang yang cukup secara langgeng. Konkretnya, buat apa Anda memiliki uang dalam jumlah besar, kalau beberapa saat kemudian uang tersebut habis. Jauh lebih baik jika Anda memiliki uang cukup, namun terus berkelanjutan.
Kedua,
jika memiliki uang, orang dapat memenuhi semua keinginannya.
Ini juga keliru. Tidak semua hal di dunia ini bisa dibeli dengan uang. Hal-hal yang menyangkut “rasa” di hati, kerap tidak terkait dengan uang. Kalaupun ada yang mencoba membeli, sifatnya artifisial dan hanya sementara. Jadi, kalau pada dasarnya memang tidak bahagia, maka kendati memiliki uang berkarung-karung tetap saja tidak bahagia.
Oleh karena itu, jangan pernah berpikir uang merupakan satu-satunya cara mencapai tujuan hidup Anda. Atau di sisi lain, jika Anda masih merasa belum mampu mendapatkan uang dalam jumlah memadai, bukan berarti kiamat. Berapa pun uang Anda, sebenarnya tetap cukup, sepanjang Anda mau melakukan penyesuaian.
Ketiga,
uang perlu dicari agar bisa pensiun segera dan tidak perlu bekerja lagi.
Ini juga tidak terlalu tepat. Bekerja dan mencari uang adalah dua hal berbeda. Artinya, jika mencintai pekerjaan dan mendapatkan makna hidup di situ, kenapa mesti pensiun? Dengan kata lain, bekerja tidak selalu identik demi uang. Akan tetapi, jika pekerjaan Anda hanya memberi beban hidup, kendati menghasilkan banyak uang, untuk apa Anda lanjutkan? Pekerjaan dan uang itu mungkin sudah tak bisa dinikmati lagi.
Di sisi lain, jika Anda merasa klop dengan pekerjaan, kendati uang yang dihasilkan tidak terlalu banyak, namun bisa memberi kelanggengan, sebaiknya Anda berpikir dua kali soal uang. Hal yang penting, penghasilan Anda memadai, dalam arti dapat memenuhi kebutuhan Anda dalam jangka panjang, bahkan sampai pensiun.
Keempat,
untuk menjadi kaya harus berpendidikan tinggi.
Mitos ini ada benarnya, tetapi tidak seratus persen. Realitasnya, kita melihat banyak orang tidak berpendidikan tinggi, tetapi memiliki aset sangat besar. Sebaliknya, tidak sedikit kalangan memiliki latar pendidikan tinggi, tetapi hidup serba kekurangan. Yang benar adalah bagaimana memanfaatkan pendidikan tinggi yang dimiliki untuk bekerja atau memilih pekerjaan sesuai dengan minat dan memberikan penghasilan memadai.
Kelima,
jika berhasil memiliki uang lebih banyak, maka akan lebih besar kesempatan menabung.
Ini benar-benar pelecehan, sebab menabung bisa dilakukan pada jumlah berapa pun. Menabung tidak bergantung pada besarnya pendapatan, tetapi lebih pada kemauan. Lebih dari itu, kebiasaan banyak orang, semakin tinggi pendapatan maka semakin besar pula pengeluaran.
SELAIN kelima hal tersebut, masih banyak mitos lain berkaitan dengan uang dan kekayaan yang berkembang di masyarakat. Namun, lepas apakah ada yang percaya dan terpengaruh atau tidak, intinya sebagian mitos tersebut tidak berdasar. Oleh karena itu, ada baiknya Anda mengubah paradigma dan tak menjadikan mitos sebagai referensi mencari kekayaan.
Hal yang utama, tentukan kembali tujuan hidup Anda. Kalau Anda tidak punya tujuan dalam hidup, buat apa hidup? Tentu saja tujuan hidup setiap orang berbeda dan setiap orang berhak menentukan tujuan hidup masing-masing.
Untuk mencapai tujuan hidup tersebut, siapa pun selayaknya memiliki perencanaan. Lazimnya, salah satu bagian dari tujuan hidup adalah memiliki tujuan keuangan, sekaligus membuat perencanaan. Dalam kaitan perencanaan keuangan inilah Anda mesti mampu menghindarkan diri dari mitos-mitos keuangan. *
Read more: www.hajsmy.us/2011/10/mitos-kekayaan-yang-menyesatkan.html
