Wednesday, 8 May 2013
Tuesday, 7 May 2013
Kebiasaan Tidur Pagi Ternyata Berbahaya
Kita telah ketahui bersama bahwa waktu pagi adalah waktu yang penuh berkah dan di antara waktu yang kita diperintahkan untuk memanfaatkannya. Akan tetapi, pada kenyataannya kita banyak melihat orang-orang melalaikan waktu yang mulia ini. Waktu yang seharusnya dipergunakan untuk bekerja, melakukan ketaatan dan beribadah, ternyata dipergunakaan untuk tidur dan bermalas-malasan. Saudaraku, ingatlah bahwa orang-orang sholih terdahulu sangat membenci tidur pagi. Kita dapat melihat ini dari penuturan Ibnul Qayyim ketika menjelaskan masalah banyak tidur yaitu bahwa banyak tidur dapat mematikan hati dan membuat badan merasa malas serta membuang-buang waktu. Beliau rahimahullah mengatakan, “Banyak tidur dapat mengakibatkan lalai dan malas-malasan. Banyak tidur ada yang termasuk dilarang dan ada pula yang dapat menimbulkan bahaya bagi badan. Waktu tidur yang paling bermanfaat yaitu :
[1] tidur ketika sangat butuh,
[2] tidur di awal malam –ini lebih manfaat daripada tidur di akhir malam-
[3] tidur di pertengahan siang –ini lebih bermanfaat daripada tidur di waktu pagi dan sore-. Apalagi di waktu pagi dan sore sangat sedikit sekali manfaatnya bahkan lebih banyak bahaya yang ditimbulkan, lebih-lebih lagi tidur di waktu ‘Ashar dan awal pagi kecuali jika memang tidak tidur semalaman. Menurut para salaf, tidur yang terlarang adalah tidur ketika selesai shalat shubuh hingga matahari terbit. Karena pada waktu tersebut adalah waktu untuk menuai ghonimah (pahala yang berlimpah). Mengisi waktu tersebut adalah keutamaan yang sangat besar, menurut orang-orang sholih. Sehingga apabila mereka melakukan perjalanan semalam suntuk, mereka tidak mau tidur di waktu tersebut hingga terbit matahari. Mereka melakukan demikian karena waktu pagi adalah waktu terbukanya pintu rizki dan datangnya barokah (banyak kebaikan).” (Madarijus Salikin, 1/459, Maktabah Syamilah) BAHAYA TIDUR PAGI
[Pertama] Tidak sesuai dengan petunjuk Al Qur'an dan As Sunnah.
[Kedua] Bukan termasuk akhlak dan kebiasaan para salafush sholih (generasi terbaik umat ini), bahkan merupakan perbuatan yang dibenci.
[Ketiga] Tidak mendapatkan barokah di dalam waktu dan amalannya.
[Keempat] Menyebabkan malas dan tidak bersemangat di sisa harinya. Maksud dari hal ini dapat dilihat dari perkataan Ibnul Qayyim. Beliau rahimahullah berkata, "Pagi hari bagi seseorang itu seperti waktu muda dan akhir harinya seperti waktu tuanya." (Miftah Daris Sa'adah, 2/216). Amalan seseorang di waktu muda berpengaruh terhadap amalannya di waktu tua. Jadi jika seseorang di awal pagi sudah malas-malasan dengan sering tidur, maka di sore harinya dia juga akan malas-malasan pula.
[Kelima] Menghambat datangnya rizki. Ibnul Qayyim berkata, "Empat hal yang menghambat datangnya rizki adalah [1] tidur di waktu pagi, [2] sedikit sholat, [3] malas-malasan dan [4] berkhianat." (Zaadul Ma’ad, 4/378) [Keenam] Menyebabkan berbagai penyakit badan, di antaranya adalah melemahkan syahwat. (Zaadul Ma’ad, 4/222) [1] Pembahasan berikut disarikan dari tulisan Ustadz Abu Maryam Abdullah Roy, Lc yang berjudul ‘Tholabul ‘Ilmi di Waktu Pagi’ dan ada sedikit tambahan dari kami.
Monday, 6 May 2013
Bahaya Mendengkur
Mendengkur tidak hanya sangat menggangu rekan yang tidur dalam ruangan
yang sama, tapi juga menganggu kesehatan sang pendengkur itu sendiri.
Simak tips mengatasinya disini.
Mendengkur merupakan salah satu
gejala yang perlu diwaspadai sebagai pertanda adanya OSA (obstructive
sleep apnea) yang meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung.
Jangan Sepelekan Mendengkur!
Bila masalah mendengkur telah semakin menjadi maka sebaiknya diperlukan
pemeriksaan dokter. Sebelumnya Anda dapat melakukan beberapa solusi
alami dan perubahan gaya hidup untuk mengatasi masalah mendengkur agar
tidur Anda dan pasangan atau rekan yang tidur seruangan dengan Anda
dapat lebih berkualitas.
Ubahlah Posisi Tidur Anda
Tidur
berbaring terlentang dapat menyebabkan dasar lidah dan langit-langit
lunak menghalangi dinding belakang saluran pernapasan sehingga dapat
menimbulkan suara yang bergetar. Untuk mengatasi masalah ini, Anda dapat
mencoba untuk tidur dengan posisi menyamping. Jika dengan posisi
menyamping, Anda masih mendengkur maka kemungkinan penyebabnya adalah
OSA (obstructive sleep apnea).
Turunkan Berat Badan
Jika
Anda mulai mendengkur ketika berat Anda bertambah dan tidak mendengkur
pada sebelumnya, maka penurunan berat badan dapat membantu. Ketika
terjadi penumpukan lemak di sekitar leher maka dapat menyebabkan
diameter saluran napas lebih kecil dan memicu kolapsnya dinding
pernapasan sehingga menyebabkan dengkuran. Meskipun demikian orang yang
kurus pun dapat mendengkur.
Hindari Alkohol
Alkohol dan
obat-obatan penenang dapat menurunkan tonus (kekuatan) otot-otot
penyangga saluran pernapasan sehingga memicu terjadinya dengkuran.
Kebiasaan Tidur yang Baik
Latihlah tubuh Anda untuk memiliki kebiasaan tidur yang baik dan tidak
bergadang. Keadaan tubuh yang terlalu lelah saat tidur dapat menyebabkan
otot-otot menjadi lebih lemah sehingga dapat memicu terjadinya
dengkuran
Pastikan Kebersihan Lingkungan Tidur
Adanya
bahan-bahan yang dapat menyebabkan alergi (alergen) dapat memicu
terjadinya dengkuran. Untuk itu, pastikan Anda mengganti sprei dan
sarung bantal Anda dengan rutin setiap 1-2 minggu sekali dan menjemur
kasur dan bantal Anda dengan rutin pula setiap minimal 6 bulan sekali.
Jangan biarkan hewan peliharaan Anda tidur di kamar atau tempat tidur
Anda.
Jaga Hidrasi dengan baik
Minumlah cairan dalam jumlah
banyak. Menurut Institute of Medicine, wanita seharusnya minum 12
cangkir sehari dan pria 16 cangkir sehari. Bila tubuh mengalami
dehidrasi maka akan membuat sekret (dahak, ludah, ingus) yang
dikeluarkan pada saluran pernapasan menjadi lebih kental dan dapat
menyebabkan dengkuran.
Pola Tidur Sehat
Cobalah dengan
tekun untuk mendapatkan waktu tidur yang cukup 7-8 jam sehari, tidur
menyamping dan tidur dalam lingkungan yang sehat. Pastikan kebutuhan
porsi tidur mencukupi untuk mencapai tidur yang berkualitas.
Ke Dokter Jika Dengkuran Dirasa Semakin Parah
Cara-cara tersebut dapat mengurangi keluhan mendengkur dengan cukup
baik. Jika mendengkur masih juga terjadi, maka Anda perlu segera
menghubungi dokter untuk menentukan penyebab dengkuran Anda.
Sunday, 5 May 2013
Masih Bingung Pakai Mobil Matic? Intip Penjelasannya
Mobil bertransmisi otomatis (automatic
transmissions-A/T) sudah menjadi kebutuhan. Apalagi di kota besar
seperti Jakarta, yang sering macet. Selain karena lebih nyaman,
mengendarai mobil A/T tak jarang membuat pengendara lebih sabar
menghadapi tekanan psikologis akibat diterpa kemacetan.Meski
memberi kenyamanan, belum banyak pengguna mobil bertransmisi otomatis
yang paham bagaimana mengemudikan mobil A/T secara benar, agar kinerja
mobil bisa optimal. Dan, kenyamanan benar-benar bisa dirasakan.
Tulisan
ini khusus membahas cara mengemudikan mobil A/T sistem "konvensional"
dengan empat tingkat kecepatan. Disebut "konvensional" karena aplikasi
teknologinya sederhana, tidak begitu kompleks. Belum dilengkapi moda
sport/power. Sensasi berkendaranya pun, tidak berbeda jauh
dengan mobil bertransmisi manual.
Bedanya hanya soal berpindahan kecepatan yang berlangsung otomatis, tanpa perlu menekan pedal kopling. Pilihan moda pengoperasiannya hanya P, R, N, D, D-3 atau 3 (OD), 2, dan L.
Berikut cara pengoperasiannya:
1. P (park/parkir). Pada saat tuas transmisi otomatis berada/digeser ke posisi P, memungkinkan mesin mobil dihidupkan (run) tanpa mobil berjalan karena sistem pengunci parkir bekerja (parking lock assembly).
Pada posisi P ini, tekanan oli yang terbangun dalam transmisi, akan langsung dikembalikan ke bak penampungan. Belum bekerja menggerakkan serangkaian alat kontrol penggerak transmisi (control devices). Produsen transmisi otomatis mempertimbangkan berbagai aspek keselamatan pengendara. Misalnya, mesin mobil hanya bisa dihidupkan saat tuas ada di posisi P atau N (neutral).
Bayangkan apa jadinya, bila di semua pilihan moda transmisi, mesin mobil bisa dihidupkan. Begitu mobil distarter, langsung jalan. Sangat berbahaya. Untuk lebih aman, pada saat parkir, pastikan tuas transmisi ada di posisi P, menghindari mobil meluncur sendiri, tanpa dikehendaki.
2. R (reverse/mundur). Memungkinkan mobil berjalan mundur. Kebanyakan mobil A/T, akan terasa entakan ketika kita menggeser tuas transmisi dari posisi P ke R. Ini akibat terjadi peningkatan tekanan oli dalam sistem hidrolis dalam ruang transmisi. Peningkatan tekanan oli ini, atau yang dikenal dengan istilah booster, bertujuan meningkatkan daya cengkeram-mekanik pelat kopling dengan pelat baja dalam sistem transmisi otomatis. Tujuannya untuk menghindari slip kopling saat terjadi perpindahan torsi dari mesin ke roda penggerak.
3. N (neutral/netral). Pada saat tuas transmisi otomatis digeser ke posisi N, memungkinkan mesin mobil hidup tanpa mobil bisa berjalan. Biasanya, posisi N dipilih pada saat pengendara ingin mobil berhenti sejenak. Misalnya pada saat lampu lalu lintas menyala merah. Selain menghemat kampas rem dan kampas kopling/pelat baja, menggeser tuas ke posisi N lebih aman, mencegah mobil nyelonong tanpa dikehendaki. Posisi N juga bisa dipilih saat mobil parkir paralel. Sama saat tuas di posisi P, pada saat di posisi N, umumnya mesin mobil bisa dihidupkan.
4. D (drive). Tuas transmisi di posisi D, memungkinkan mobil berjalan/melaju dengan perpindahan kecepatan berlangsung secara otomatis, mulai dari gear 1st umumnya sampai gear 3rd (gear 3rd dengan rasio gear 1 : 1). Perpindahan kecepatan secara otomatis tanpa harus menginjak pedal kopling, layaknya mobil bertrasnamisi manual.
Pada saat tuas di posisi D, perpindahan kecepatan-otomatis akan terjadi hanya dengan menekan pedal gas. Perpindahan kecepatan terjadi seiring peningkatan kecepatan mobil yang dimonitor oleh sensor kecepatan mobil (vehicle speed sensor/VSS). Posisi tuas di D, memungkinkan kendaraan berakselerasi.
Caranya tinggal menekan pedal gas lebih dalam. Maka secara otomatis rasio gear akan turun satu tingkat. Bila semula gear rasio ada di posisi 4th, turun ke 3rd, dari 3rd turun ke 2nd, dan dari 2nd turun ke 1st. Akselerasi diperlukan saat hendak mendahului kendaraan lain atau saat akan memacu mobil lebih cepat.
Pada saat pedal gas ditekan, tegangan listrik yang diatur throttle position sensor (TPS) memberi sinyal ke sistem elektronik transmisi otomatis (transmission control unit/TCU atau powertrain control module/PCM) untuk mengalihkan tekanan oli ke posisi gear yang lebih rendah, sehingga akselerasi terjadi.
Rasio gear akan kembali meningkat, ketika laju kendaraan seperti yang dimonitor VSS mencapai kecepatan tertentu. Setiap kendaraan, rasionya berbeda-beda, diatur secara terkomputerisasi oleh TCU/PCM.
5. D-3 atau overdrive/OD. Banyak pengemudi mobil transmisi otomatis yang belum paham fungsi moda yang satu ini. Padahal, fungsinya sederhana. Pada saat tuas transmisi digeser ke posisi D-3, atau pada beberapa jenis mobil, saat tombol OD yang ada di tuas transmisi diaktifkan, memungkinkan terjadi perpindahan rasio gear dari 1st ke OD, sehingga hemat bahan bakar dan mengurangi emisi gas buang.
Posisi gear D-3 atau OD, juga memungkinkan membatasi perpindahan percepatan mobil maksimum pada gear 3rd. Umumnya moda D-3 atau OD terasa fungsinya ketika mobil melaju dengan kecepatan di atas 60 kilometer per jam.
Coba saja, geser tuas transmisi ke posisi D lalu injak pedal gas sampai mobil melaju dengan kecepatan di atas 60 km per jam. Ketika sampai di kecepatan kisaran 60 km per jam, umumnya tingkat percepatan mobil mencapai 4th. Tekan tombol OD atau geser tuas ke D-3. Maka, gear rasio akan langsung turun ke posisi 3rd, dan tertahan di 3rd (tidak mau kembali secara otomatis ke 4th), sekalipun pedal gas diinjak lebih dalam.
Moda D-3 atau OD sangat membantu saat kita hendak berakselerasi tanpa harus menginjak pedal gas lebih dalam, atau saat akan menyalip kendaraan lain. Tapi jangan lupa, setelah mobil lain terlampaui, geser kembali tuas ke posisi D atau non aktifkan kembali tombol OD.
Ada yang kerap bertanya, bagaimana sistem pengamanan dalam mobil transmisi otomatis? Bagaimana jadinya, kalau tanpa sengaja tuas transmisi yang semula di D, kesenggol dan geser ke N atau bahkan R? Jangan khawatir, produsen transmisi otomatis sudah mempertimbangkan itu.
Kalau tuas geser ke posisi yang tidak dikehendaki, maka sistem komputer transmisi otomatis mobil yang dikendalikan TCU/PCM secara otomatis akan mengeset sistem dalam moda N atau netral. Sistem dirancang untuk mencegah kehancuran transmisi otomatis.
6. Intermediate (2 atau D-2). Posisi tuas di 2, memungkinkan mencegah beroperasinya kecepatan atau gear yang lebih tinggi. Dengan kata lain, ketika tuas digeser ke 2, transmisi akan bekerja secara otomatis pada gear 1st dan 2st, serta membatasi perpindahan ke gear 3rd.
Selain itu juga secara mekanis mengaktifkan compression breaking atau yang pada mobil manual acap kali disebut engine breaking. Fungsinya, saat mobil melaju diturunan, transmisi otomatis akan membantu menahan laju mobil. Harap diingat, setelah melintasi jalan normal, geser kembali tuas ke D.
Pengaktifan compression breaking yang terlalu lama, membuat oli transmisi dan transmisi cepat panas. Oli transmisi juga cepat kotor, sehingga usia pakai oli lebih singkat. Karena membatasi gear maksimum di posisi 2nd, maka sangat membantu mobil saat melaju di tanjakan yang cukup tajam dan panjang. Bisa menahan torsi mesin pada tingkat yang diinginkan.
7. L (low). Tidak jauh berbeda dengan 2, moda L bekerja untuk membatasi tingkat kecepatan kendaraan pada gear 1st. Karena bertahan di gear 1st, maka sangat efektif digunakan pada saat mobil melintasi tanjakan atau turunan terjal. Karena mobil cukup tenaganya, memungkinkan melintas di medan yang sulit sekalipun. Bila jalanan normal, jangan lupas geser lagi tuas ke D.
Memahami cara kerja dan penggunaan transmisi otomatis secara benar tidak saja mengemudikan mobil bertransmisi otomatis menjadi lebih nyaman, tetapi juga hemat bahan bakar. Selamat mencoba!
Bedanya hanya soal berpindahan kecepatan yang berlangsung otomatis, tanpa perlu menekan pedal kopling. Pilihan moda pengoperasiannya hanya P, R, N, D, D-3 atau 3 (OD), 2, dan L.
Berikut cara pengoperasiannya:
1. P (park/parkir). Pada saat tuas transmisi otomatis berada/digeser ke posisi P, memungkinkan mesin mobil dihidupkan (run) tanpa mobil berjalan karena sistem pengunci parkir bekerja (parking lock assembly).
Pada posisi P ini, tekanan oli yang terbangun dalam transmisi, akan langsung dikembalikan ke bak penampungan. Belum bekerja menggerakkan serangkaian alat kontrol penggerak transmisi (control devices). Produsen transmisi otomatis mempertimbangkan berbagai aspek keselamatan pengendara. Misalnya, mesin mobil hanya bisa dihidupkan saat tuas ada di posisi P atau N (neutral).
Bayangkan apa jadinya, bila di semua pilihan moda transmisi, mesin mobil bisa dihidupkan. Begitu mobil distarter, langsung jalan. Sangat berbahaya. Untuk lebih aman, pada saat parkir, pastikan tuas transmisi ada di posisi P, menghindari mobil meluncur sendiri, tanpa dikehendaki.
2. R (reverse/mundur). Memungkinkan mobil berjalan mundur. Kebanyakan mobil A/T, akan terasa entakan ketika kita menggeser tuas transmisi dari posisi P ke R. Ini akibat terjadi peningkatan tekanan oli dalam sistem hidrolis dalam ruang transmisi. Peningkatan tekanan oli ini, atau yang dikenal dengan istilah booster, bertujuan meningkatkan daya cengkeram-mekanik pelat kopling dengan pelat baja dalam sistem transmisi otomatis. Tujuannya untuk menghindari slip kopling saat terjadi perpindahan torsi dari mesin ke roda penggerak.
3. N (neutral/netral). Pada saat tuas transmisi otomatis digeser ke posisi N, memungkinkan mesin mobil hidup tanpa mobil bisa berjalan. Biasanya, posisi N dipilih pada saat pengendara ingin mobil berhenti sejenak. Misalnya pada saat lampu lalu lintas menyala merah. Selain menghemat kampas rem dan kampas kopling/pelat baja, menggeser tuas ke posisi N lebih aman, mencegah mobil nyelonong tanpa dikehendaki. Posisi N juga bisa dipilih saat mobil parkir paralel. Sama saat tuas di posisi P, pada saat di posisi N, umumnya mesin mobil bisa dihidupkan.
4. D (drive). Tuas transmisi di posisi D, memungkinkan mobil berjalan/melaju dengan perpindahan kecepatan berlangsung secara otomatis, mulai dari gear 1st umumnya sampai gear 3rd (gear 3rd dengan rasio gear 1 : 1). Perpindahan kecepatan secara otomatis tanpa harus menginjak pedal kopling, layaknya mobil bertrasnamisi manual.
Pada saat tuas di posisi D, perpindahan kecepatan-otomatis akan terjadi hanya dengan menekan pedal gas. Perpindahan kecepatan terjadi seiring peningkatan kecepatan mobil yang dimonitor oleh sensor kecepatan mobil (vehicle speed sensor/VSS). Posisi tuas di D, memungkinkan kendaraan berakselerasi.
Caranya tinggal menekan pedal gas lebih dalam. Maka secara otomatis rasio gear akan turun satu tingkat. Bila semula gear rasio ada di posisi 4th, turun ke 3rd, dari 3rd turun ke 2nd, dan dari 2nd turun ke 1st. Akselerasi diperlukan saat hendak mendahului kendaraan lain atau saat akan memacu mobil lebih cepat.
Pada saat pedal gas ditekan, tegangan listrik yang diatur throttle position sensor (TPS) memberi sinyal ke sistem elektronik transmisi otomatis (transmission control unit/TCU atau powertrain control module/PCM) untuk mengalihkan tekanan oli ke posisi gear yang lebih rendah, sehingga akselerasi terjadi.
Rasio gear akan kembali meningkat, ketika laju kendaraan seperti yang dimonitor VSS mencapai kecepatan tertentu. Setiap kendaraan, rasionya berbeda-beda, diatur secara terkomputerisasi oleh TCU/PCM.
5. D-3 atau overdrive/OD. Banyak pengemudi mobil transmisi otomatis yang belum paham fungsi moda yang satu ini. Padahal, fungsinya sederhana. Pada saat tuas transmisi digeser ke posisi D-3, atau pada beberapa jenis mobil, saat tombol OD yang ada di tuas transmisi diaktifkan, memungkinkan terjadi perpindahan rasio gear dari 1st ke OD, sehingga hemat bahan bakar dan mengurangi emisi gas buang.
Posisi gear D-3 atau OD, juga memungkinkan membatasi perpindahan percepatan mobil maksimum pada gear 3rd. Umumnya moda D-3 atau OD terasa fungsinya ketika mobil melaju dengan kecepatan di atas 60 kilometer per jam.
Coba saja, geser tuas transmisi ke posisi D lalu injak pedal gas sampai mobil melaju dengan kecepatan di atas 60 km per jam. Ketika sampai di kecepatan kisaran 60 km per jam, umumnya tingkat percepatan mobil mencapai 4th. Tekan tombol OD atau geser tuas ke D-3. Maka, gear rasio akan langsung turun ke posisi 3rd, dan tertahan di 3rd (tidak mau kembali secara otomatis ke 4th), sekalipun pedal gas diinjak lebih dalam.
Moda D-3 atau OD sangat membantu saat kita hendak berakselerasi tanpa harus menginjak pedal gas lebih dalam, atau saat akan menyalip kendaraan lain. Tapi jangan lupa, setelah mobil lain terlampaui, geser kembali tuas ke posisi D atau non aktifkan kembali tombol OD.
Ada yang kerap bertanya, bagaimana sistem pengamanan dalam mobil transmisi otomatis? Bagaimana jadinya, kalau tanpa sengaja tuas transmisi yang semula di D, kesenggol dan geser ke N atau bahkan R? Jangan khawatir, produsen transmisi otomatis sudah mempertimbangkan itu.
Kalau tuas geser ke posisi yang tidak dikehendaki, maka sistem komputer transmisi otomatis mobil yang dikendalikan TCU/PCM secara otomatis akan mengeset sistem dalam moda N atau netral. Sistem dirancang untuk mencegah kehancuran transmisi otomatis.
6. Intermediate (2 atau D-2). Posisi tuas di 2, memungkinkan mencegah beroperasinya kecepatan atau gear yang lebih tinggi. Dengan kata lain, ketika tuas digeser ke 2, transmisi akan bekerja secara otomatis pada gear 1st dan 2st, serta membatasi perpindahan ke gear 3rd.
Selain itu juga secara mekanis mengaktifkan compression breaking atau yang pada mobil manual acap kali disebut engine breaking. Fungsinya, saat mobil melaju diturunan, transmisi otomatis akan membantu menahan laju mobil. Harap diingat, setelah melintasi jalan normal, geser kembali tuas ke D.
Pengaktifan compression breaking yang terlalu lama, membuat oli transmisi dan transmisi cepat panas. Oli transmisi juga cepat kotor, sehingga usia pakai oli lebih singkat. Karena membatasi gear maksimum di posisi 2nd, maka sangat membantu mobil saat melaju di tanjakan yang cukup tajam dan panjang. Bisa menahan torsi mesin pada tingkat yang diinginkan.
7. L (low). Tidak jauh berbeda dengan 2, moda L bekerja untuk membatasi tingkat kecepatan kendaraan pada gear 1st. Karena bertahan di gear 1st, maka sangat efektif digunakan pada saat mobil melintasi tanjakan atau turunan terjal. Karena mobil cukup tenaganya, memungkinkan melintas di medan yang sulit sekalipun. Bila jalanan normal, jangan lupas geser lagi tuas ke D.
Memahami cara kerja dan penggunaan transmisi otomatis secara benar tidak saja mengemudikan mobil bertransmisi otomatis menjadi lebih nyaman, tetapi juga hemat bahan bakar. Selamat mencoba!
Kiat Meningkatkan Kemampuan Memecahkan Masalah
Ingin meningkatkan kemampuan dalam memecahkan masalah? Sebuah studi baru
menemukan, sikap mengingatkan diri sendiri akan kekuatan dan
nilai-nilai positif dalam diri akan membantu Anda lebih terampil dalam
memecahkan masalah, terutama saat berada di bawah tekanan.
Studi yang dipublikasi dalam jurnal PLoS ONE melibatkan 73 mahasiswa yang melaporkan memiliki kadar stres yang tinggi selama sebulan terakhir. Para peneliti kemudian membagi peserta menjadi dua kelompok.
Satu kelompok melakukan latihan afirmasi yang mengingatkan mereka tentang hal-hal positif dalam diri mereka, sedangkan kelompok lainnya tidak. Setelah melakukan latihan, para peserta diminta untuk menyelesaikan tugas untuk mengukur kemampuan mereka memecahkan masalah.
Hasilnya kelompok yang melakukan latihan secara umum lebih baik daripada kelompok kedua.
Para peneliti mengatakan, studi ini memberikan bukti pertama yang menyatakan bahwa afirmasi diri dapat melindungi dari efek negatif stres. Seperti yang diketahui, stres dapat memberikan banyak dampak negatif, salah satunya penurunan performa pemecahan masalah.
"Secara khusus, studi ini menunjukkan stres kronis dapat berdampak pada performa pemecahan masalah dan afirmasi diri dapat meningkatkan kemampuan memecahkan masalah saat di bawah tekanan," ujar mereka.
Sebelumnya, sebuah studi yang dimuat dalam jurnal Psychological Science menunjukkan bahwa afirmasi diri berhubungan dengan kadar respon tertentu di dalam otak yang lebih tinggi. Respon itu disebut dengan negativitas terkait salah yang terjadi seketika setelah seseorang membuat kesalahan. Afirmasi diri akan membuat koreksi yang lebih baik dari kesalahan-kesalahan yang dibuat.
Studi yang dipublikasi dalam jurnal PLoS ONE melibatkan 73 mahasiswa yang melaporkan memiliki kadar stres yang tinggi selama sebulan terakhir. Para peneliti kemudian membagi peserta menjadi dua kelompok.
Satu kelompok melakukan latihan afirmasi yang mengingatkan mereka tentang hal-hal positif dalam diri mereka, sedangkan kelompok lainnya tidak. Setelah melakukan latihan, para peserta diminta untuk menyelesaikan tugas untuk mengukur kemampuan mereka memecahkan masalah.
Hasilnya kelompok yang melakukan latihan secara umum lebih baik daripada kelompok kedua.
Para peneliti mengatakan, studi ini memberikan bukti pertama yang menyatakan bahwa afirmasi diri dapat melindungi dari efek negatif stres. Seperti yang diketahui, stres dapat memberikan banyak dampak negatif, salah satunya penurunan performa pemecahan masalah.
"Secara khusus, studi ini menunjukkan stres kronis dapat berdampak pada performa pemecahan masalah dan afirmasi diri dapat meningkatkan kemampuan memecahkan masalah saat di bawah tekanan," ujar mereka.
Sebelumnya, sebuah studi yang dimuat dalam jurnal Psychological Science menunjukkan bahwa afirmasi diri berhubungan dengan kadar respon tertentu di dalam otak yang lebih tinggi. Respon itu disebut dengan negativitas terkait salah yang terjadi seketika setelah seseorang membuat kesalahan. Afirmasi diri akan membuat koreksi yang lebih baik dari kesalahan-kesalahan yang dibuat.
Subscribe to:
Comments (Atom)