Alhamdulillah, salawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan sahabatnya.
Anda
telah berkeluarga? Bagaimana pengalaman Anda selama mengarungi
bahtera rumah tangga? Semulus dan seindah yang Anda bayangkan dahulu?
Mungkin saja Anda menjawab, "Tidak."
Akan tetapi, izinkan saya berbeda dengan Anda: "Ya," bahkan lebih indah daripada yang saya bayangkan sebelumnya.
Saudaraku,
kehidupan rumah tangga memang penuh dengan dinamika, lika-liku, dan
pasang surut. Kadang Anda senang, dan kadang Anda bersedih. Tidak
jarang, Anda tersenyum di hadapan pasangan Anda, dan kadang kala Anda
cemberut dan bermasam muka.
Bukankah demikian, Saudaraku?
Berbagai
tantangan dan tanggung jawab dalam rumah tangga senantiasa menghiasi
hari-hari Anda. Semakin lama umur pernikahan Anda, maka semakin
berat dan bertambah banyak perjuangan yang harus Anda tunaikan.
Tanggung jawab terhadap putra-putri, pekerjaan, karib kerabat, masyarakat, dan lain sebagainya.
Di antara tanggung jawab yang tidak akan pernah lepas dari kehidupan Anda ialah tanggung jawab terhadap pasangan hidup Anda.
Sebelum
menikah, sah-sah saja Anda sebagai calon suami membayangkan bahwa
pasangan hidup Anda cantik rupawan, bangsawan, kaya raya, patuh,
pandai mengurus rumah, penyayang, tanggap, sabar, dan berbagai
gambaran indah.
Bukankah demikian, Saudaraku?
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
"Biasanya,
seorang wanita dinikahi karena empat pertimbangan: harta
kekayaannya, kedudukannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka,
hendaknya engkau lebih memilih wanita yang beragama, niscaya engkau
beruntung." (Muttafaqun 'alaihi)
Al-Qurthubi menjelaskan
makna hadits ini dengan berkata, "Empat pertimbangan inilah yang
biasanya mendorong seorang lelaki untuk menikahi seorang wanita.
Dengan demikian, hadits ini sebatas kabar tentang fakta yang terjadi
di masyarakat, dan bukan perintah untuk menjadikannya sebagai
pertimbangan. Secara tekstual pun, hadits ini menunjukkan bahwa
dibolehkan menikahi seorang wanita dengan keempat pertimbangan itu.
Akan tetapi, hendaknya pertimbangan agama lebih didahulukan."
Keterangan al-Qurthubi ini semakna dengan hadits yang diriwayatkan oleh shahabat Abdullah bin Amr al-'Ash
radhiyallahu 'anhu, "Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ
تَزَوَّجُوا النِّسَاءَ لِحُسْنِهِنَّ فَعَسَى حُسْنُهُنَّ أَنْ
يُرْدِيَهُنَّ وَلاَ تَزَوَّجُوهُنَّ لِأَمْوَالِهِنَّ فَعَسَى
أَمْوَالُهُنَّ أَنْ تُطْغِيَهُنَّ وَلَكِنْ تَزَوَّجُوهُنَّ عَلَى
الدِّينِ وَلَأَمَةٌ خَرْمَاءُ سَوْدَاءُ ذَاتُ دِينٍ أَفْضَلُ
'Janganlah
engkau menikahi wanita hanya karena kecantikan parasnya, karena bisa
saja parasnya yang cantik menjadikannya sengsara. Jangan pula engkau
menikahinya karena harta kekayaannya, karena bisa saja harta
kekayaan yang ia miliki menjadikan lupa daratan. Akan tetapi,
hendaklah engkau menikahinya karena pertimbangan agamanya. Sungguh,
seorang budak wanita berhidung pesek dan berkulit hitam, tetapi ia
patuh beragama, lebih utama dibanding mereka semua.'" (Hr. Ibnu Majah; oleh al-Albani dinyatakan sebagai hadits yang lemah)
Akan tetapi, sekarang, setelah Anda menikah, terwujudkah seluruh impian dan gambaran yang dahulu terlukis dalam lamunan Anda?
Bila
benar-benar seluruh impian Anda terwujud pada pasangan hidup Anda,
maka saya turut mengucapkan selamat berbahagia di dunia dan akhirat.
Bila tidak, maka tidak perlu berkecil hati atau kecewa.
Saudaraku,
besarkan hati Anda, karena nasib serupa tidak hanya menimpa Anda
seorang, tetapi juga menimpa kebanyakan umat manusia.
عَنْ أَبِى
مُوسَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كَمُلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ
مِنَ النِّسَاءِ إِلاَّ آسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ، وَمَرْيَمُ
بِنْتُ عِمْرَانَ، وَإِنَّ فَضْلَ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ
الثَّرِيدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ
A
bu Musa radhiyallahu
‘anhu menuturkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
‘Banyak lelaki yang berhasil menggapai kesempurnaan, sedangkan
tidaklah ada dari wanita yang berhasil menggapainya kecuali Asiyah
istri Fir'aun dan Maryam binti Imran. Sesungguhnya, kelebihan Aisyah
dibanding wanita lainnya bagaikan kelebihan bubur daging [1]
dibanding makanan lainnya." (Muttafaqun 'alaihi)
Saudaraku, berbahagia dan berbanggalah dengan pasangan hidup Anda, karena pasangan hidup Anda adalah wanita terbaik untuk Anda!
Anda tidak percaya? Silakan Anda membuktikannya. Bacalah sabda Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini, lalu terapkanlah pada istri Anda.
لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ
Tidak
pantas bagi lelaki yang beriman untuk meremehkan wanita yang
beriman. Bila ia tidak menyukai satu perangai darinya, pasti ia puas
dengan perangainya yang lain." (Hr. Muslim)
Saudaraku,
Anda kecewa karena istri Anda kurang pandai memasak? Tidak perlu
khawatir, karena ternyata istri Anda adalah penyayang.
Anda
kurang puas dengan istri Anda yang kurang pandai mengurus rumah dan
kurang sabar? Tidak usah berkecil hati, karena ia begitu cantik
rupawan.
Anda berkecil hati karena istri Anda kurang cantik?
Segera besarkan hati Anda, karena ternyata istri Anda subur sehingga
Anda mendapatkan karunia keturunan yang shalih dan shalihah. Coba
Anda bayangkan, betapa besar penderitaan Anda bila Anda menikahi
wanita cantik akan tetapi mandul.
Demikianlah seterusnya.
Tidak
etis dan tidak manusiawi bila Anda hanya pandai mengorek kekurangan
istri, namun Anda tidak mahir dalam menemukan kelebihan-kelebihannya.
Buktikan Saudaraku, bahwa Anda benar-benar seorang suami yang
berjiwa besar, sehingga Anda peka dan lihai dalam membaca kelebihan
pasangan Anda.
Dahulu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu
peka dan mahir dalam membaca segala hal, termasuk suasana hati
istrinya. Aisyah mengisahkan,
قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: إِنِّي لَأَعْلَمُ إِذَا كُنْتِ عَنِّي
رَاضِيَةً، وَإِذَا كُنْتِ عَلَيَّ غَضْبَى . قَالَتْ: فَقُلْتُ مِنْ
أَيْنَ تَعْرِفُ ذَلِكَ، فَقَالَ: أَمَّا إِذَا كُنْتِ عَنِّي رَاضِيَةً
فَإِنَّكِ تَقُولِيْنَ لاَ وَرَبِّ مُحَمَّدٍ، وَإِذَا كُنْتِ غَضْبَى
قُلْتِ لاَ وَرَبِّ إِبْرَاهِيمَ. قَالَتْ: قُلْتُ أَجَلْ وَاللَّهِ
يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا أَهْجُرُ إِلاَّ اسْمَكَ
“Pada suatu
hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku,
‘Sungguh, aku mengetahui bila engkau ridha kepadaku, demikian pula
bila engkau sedang marah kepadaku.’ Spontan, Aisyah bertanya,
‘Darimana engkau dapat mengetahui hal itu?’ Rasulullah menjawab,
‘Bila engkau sedang ridha kepadaku, maka ketika engkau bersumpah,
engkau berkata, ‘Tidak, demi Tuhan Muhammad. Adapun bila engkau
sedang dirundung amarah, maka ketika engkau bersumpah, engkau
berkata, ‘Tidak, demi Tuhan Ibrahim.’’ Mendengar penjelasan ini, Aisyah
menimpalinya dan berkata, ‘Benar, sungguh demi Allah, wahai
Rasulullah, ketika aku marah, tiada yang aku tinggalkan, kecuali
namamu saja.’” (Muttafaqun 'alaihi)
Demikianlah teladan Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Beliau begitu peka dengan suasana hati istrinya, sehingga beliau
bisa membaca isi hati istrinya dari ucapan sumpahnya. Walaupun Aisyah
berusaha untuk menyembunyikan isi hatinya, tetap bermanis muka,
senantiasa berada di sanding Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan berbicara seperti biasa, namun Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam
dapat menebak suasana hatinya dari perubahan cara bersumpahnya. Luar
biasa, perhatian, kejelian, dan kepekaan yang tidak ada bandingnya.
Tidak mengherankan, bila beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
(خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
"Orang
terbaik di antara kalian ialah orang yang terbaik dalam
memperlakukan istrinya, dan aku adalah orang terbaik di antara kalian
dalam memperlakukan istriku." (Hr. At-Tirmidzi)
Bagaimana dengan Anda, Saudaraku? Dengan apa Anda dapat mengenali dan meraba suasana hati pasangan Anda?
Saudaraku,
tidak ada salahnya bila sejenak Anda kembali memutar lamunan dan
gambaran tentang istri ideal dan idaman yang pernah singgah dalam
benak Anda. Selanjutnya, bandingkan gambaran istri idaman Anda dengan
gambaran Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kaum wanita berikut ini,
الْمَرْأَةُ كَالضِّلَعِ ، إِنْ أَقَمْتَهَا كَسَرْتَهَا، وَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيهَا عِوَجٌ
"Wanita
itu bagaikan tulang rusuk. Bila engkau ingin meluruskannya, niscaya
engkau menjadikannya patah, dan bila engkau bersenang-senang
dengannya, niscaya engkau dapat bersenang-senang dengannya, sedangkan
ia adalah bengkok." (Muttafaqun 'alaihi)
Pada riwayat lain, beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ
تَسْتَقِيمُ لَكَ الْمَرْأَةُ عَلَى خَلِيقَةٍ وَاحِدَةٍ وَإِنَّمَا
هِيَ كَالضِّلَعُ إِنْ تُقِمْهَا تَكْسِرْهَا وَإِنْ تَتْرُكْهَا
تَسْتَمْتِعْ بِهَا وَفِيهَا عِوَجٌ
"Tidak mungkin istrimu
kuasa bertahan dalam satu keadaan. Sesungguhnya, wanita itu bak
tulang rusuk. Bila engkau ingin meluruskannya, niscaya engkau
menjadikannya patah. Adapun bila engkau biarkan begitu saja, maka
engkau dapat bersenang-senang dengannya, (tetapi hendaklah engkau
ingat) ia adalah bengkok.” (Hr. Ahmad)
Nah, sekarang,
silakan Anda mengorek memori Anda tentang wanita pendamping hidup
Anda. Temukan berbagai kelebihan padanya, dan selanjutnya
tersenyumlah, karena ternyata istri Anda memiliki banyak kelebihan.
Lalu,
bila pada suatu hari Anda merasa tergoda oleh kecantikan wanita
lain, maka ketahuilah bahwa sesuatu yang dimiliki oleh wanita itu
ternyata juga telah dimiliki oleh istri Anda. Maka, bergegaslah untuk
membuktikan hal ini pada istri Anda. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا رَأَى أَحَدُكُمُ امْرَأَةً فَأَعْجَبَتْهُ فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ فَإِنَّ مَعَهَا مِثْلَ الَّذِي مَعَهَا
"Bila
engkau melihat seorang wanita, lalu ia memikat hatimu, maka
segeralah datangi istrimu! Sesungguhnya, istrimu memiliki seluruh hal
yang dimiliki oleh wanita yang engkau lihat itu." (Hr. At-Tirmidzi)
Demikianlah
caranya agar Anda dapat senantiasa puas dan bangga dengan pasangan
hidup Anda. Anda selalu dapat merasa bahwa ladang Anda tampak hijau,
sehijau ladang tetangga, dan bahkan lebih hijau.
Selamat
berbahagia dengan pasangan hidup yang telah Allah karuniakan kepada
Anda. Semoga Allah memberkahi bahtera rumah tangga Anda.
Sebaliknya,
sebagai calon istri, Anda juga berhak untuk mendambakan pasangan
hidup yang tampan, gagah, kaya raya, pandai, berkedudukan tinggi,
penuh perhatian, setia, penyantun, dermawan, dan lain sebagainya.
Betapa
indahnya gambaran rumah tangga Anda, dan betapa istimewanya pasangan
hidup Anda, andai gambaran Anda ini dapat terwujud. Bukankah
demikian, Saudariku?
Saudariku, setelah Anda menikah, benarkah
seluruh kriteria suami ideal yang pernah menghiasi lamunan Anda ini
terwujud pada pasangan hidup Anda?
Bila benar terwujud, maka saya ucapkan selamat berbahagia di dunia dan akhirat, dan bila tidak, maka tidak perlu berkecil hati.
Besarkan hatimu, wahai Saudariku! Percayalah, bahwa pada pasangan hidup Anda ternyata terdapat banyak kelebihan.
Bila
selama ini, Saudari ciut hati karena suami Anda miskin harta, maka
tidak perlu khawatir, karena ia penuh dengan perhatian dan tanggung
jawab.
Bila selama ini, Saudari kecewa karena suami Anda ternyata kurang tampan, maka percayalah bahwa ia setia dan bertanggung jawab.
Andai
selama ini, Saudari kurang puas karena suami Anda kurang perhatian
dengan urusan dalam rumah, tetapi ia begitu membanggakan dalam urusan
luar rumah.
Juga, andai selama ini, sikap suami Anda terhadap
Anda kurang simpatik, maka tidak perlu hanyut dalam duka dan
kekecawaan, karena ia masih punya jasa baik yang tidak ternilai
dengan harta. Ternyata, selama ini, suami Anda telah menjaga
kehormatan Anda, menjadi penyebab Anda merasakan kebahagiaan menimang
putra-putri Anda.
Saudariku, Anda tidak perlu hanyut dalam
kekecewaan karena suatu hal yang ada pada diri suami Anda. Betapa
banyak kelebihan-kelebihan yang ada padanya. Berbahagia dan
nikmatilah kedamaian hidup rumah tangga bersamanya.
Berlarut-larut
dalam kekecewaan terhadap suatu perangai suami Anda dapat
menghancurkan segala keindahan dalam rumah tangga Anda. Bukan hanya
hancur di dunia, bahkan berkelanjutan hingga di akhirat kelak.
Saudariku, simaklah peringatan Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini. Agar anda dapat menjadikan bahtera rumah tangga Anda seindah dambaan Anda.
أُرِيتُ
النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ، قِيلَ:
أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ، وَيَكْفُرْنَ
الإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ
مِنْكَ شَيْئًا، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ
“Aku
diberi kesempatan untuk menengok ke dalam neraka, dan ternyata
kebanyakan penghuninya ialah para wanita, akibat ulah mereka yang
selalu kufur/ingkar.” Spontan, para shahabat bertanya, “Apakah yang
engkau maksud adalah mereka kufur/ingkar kepada Allah?” Beliau
menjawab, “Mereka terbiasa ingkar terhadap perilaku baik, dan ingkar
terhadap jasa baik. Andai engkau berbuat baik kepada mereka seumur
hidupmu, lalu ia mendapatkan suatu hal padamu, niscaya mereka begitu
mudah berkata, ‘Aku tidak pernah mendapatkan kebaikan sedikit pun
darimu.’” (Muttafaqun 'alaihi)
Anda mendambakan kebahagian dalam rumah tangga?
Temukanlah
bahwa kebahagian hidup dan berumah tangga terletak pada genggaman
tangan suami Anda. Pandai-pandailah membawa diri, sehingga suami Anda
rela membentangkan kedua telapak tangannya, dan memberikan kebahagian
berumah tangga kepada Anda.
Percayalah Saudariku, suami Anda adalah pasangan terbaik untuk Anda.
إِذَا
صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ
فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا اُدْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ
أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
“Bila seorang istri telah
mendirikan shalat lima waktu, berpuasa bulan Ramadan, menjaga
kesucian dirinya, dan taat kepada suaminya, niscaya kelak akan
dikatakan kepadanya, 'Silakan engkau masuk ke surga dari pintu mana
pun yang engkau suka.’” (Hr. Ahmad dan lainnya)
Tidakkah Anda mendambakan termasuk orang-orang mukminah yang mendapatkan kebebasan masuk surga dari pintu yang mana pun?
Kunci Keberhasilan Rumah Tangga
Saudaraku,
mungkin selama ini Anda bersama pasangan hidup Anda, terus berusaha
mencari pola rumah tangga yang dapat mendatangkan kebahagiaan untuk
Anda berdua.
Anda berhasil menemukannya?
Bila Anda
berhasil, maka saya ucapkan selamat berbahagia. Adapun bila belum,
maka segera temukan kunci keberhasilan rumah tangga Anda pada firman
Allah berikut,
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ
"Dan
para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut
cara yang ma'ruf. Akan tetapi, para suami mempunyai kelebihan satu
tingkat daripada istrinya." (Qs. al-Baqarah: 228)
Hak
pasangan Anda setimpal dengan kewajiban yang ia tunaikan kepada Anda.
Semakin banyak Anda menuntut hak Anda, maka semakin banyak pula
kewajiban yang harus Anda tunaikan untuknya.
Shahabat Abdullah
bin 'Abbas memberikan contoh nyata dari aplikasi ayat ini dalam rumah
tangganya. Pada suatu hari, beliau berkata, "Sesungguhnya, aku senang
untuk berdandan demi istriku, sebagaimana aku pun senang bila
istriku berdandan demiku, karena Allah Ta'ala telah berfirman,
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ
‘Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf.’
Aku pun tidak ingin menuntut seluruh hakku atas istriku, karena Allah juga telah berfirman,
وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ
‘Akan tetapi, para suami mempunyai kelebihan satu tingkat daripada istrinya.’" (Hr. Ibnu Abi Syaibah dan ath-Thabari)
Bagaimana
dengan dirimu, wahai saudara dan saudariku? Kapankah Anda berdandan?
Ketika sedang berada di rumah atau ketika hendak keluar rumah?
Selama ini, sejatinya, untuk siapa Anda berdandan? Benarkah Anda
berdandan untuk pasangan Anda, ataukah Anda berdandan dan tampil
menawan untuk orang lain?
Saudaraku, bahu-membahu, saling
melengkapi kekurangan, dan saling pengertian adalah salah satu
prinsip dasar dalam membangun rumah tangga. Tidak layak bagi Anda
untuk berperan sebagai penonton setia ketika pasangan Anda sedang
mengerjakan pekerjaannya. Usahakan sebisa Anda untuk turut
menyelesaikan pekerjaannya. Demikianlah, dahulu Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan dalam rumah tangga beliau.
Aisyah
radhiyallahu 'anha mengisahkan,
كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ، فَإِذَا سَمِعَ الأَذَانَ خَرَجَ
"Dahulu
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan sebagian pekerjaan
istrinya, dan bila beliau mendengar suara azan dikumandangkan, maka
beliau bergegas menuju ke mesjid." (Hr. Bukhari)
Constance
Gager, ketua studi sekaligus asisten profesor di Montclair State
University, Montclair, New Jersey, mengadakan penelitian tentang
hubungan perilaku suami-istri dengan keromantisan dalam bercinta. Ia
mengelompokkan para suami yang menjadi objek penelitiannya ke dalam dua
kelompok.
Kelompok pertama adalah suami-suami yang tidak peduli
dan jarang membantu pekerjaan istri. Kelompok kedua adalah
suami-suami yang sering turut serta dalam mengerjakan pekerjaan rumah
tangga istri.
Hasilnya luar biasa! Suami di kelompok kedua,
yaitu yang sering membantu pekerjaan istrinya, terbukti lebih
romantis dan lebih sering memadu cinta dengan pasangannya. Hubungan
yang harmonis dan indah, begitu kental dalam rumah tangga mereka.
Sejatinya,
penemuan ini bukanlah hal baru, karena secara logika, suami yang
dengan rendah hati membantu pekerjaan istrinya pastilah lebih
dicintai oleh istrinya. Tentunya, ini memiliki hubungan erat dengan
keromantisan suami-istri dalam bercinta.
Sebaliknya, istri yang peduli dengan pekerjaan suami, pun akan mengalami hal yang sama.
Nah, bagaimana dengan diri Anda, wahai Saudaraku?
Selamat membuktikan resep manjur ini! Semoga berbahagia, dan hubungan Anda berdua semakin romantis dan harmonis.
Semoga
tulisan sederhana ini bermanfaat bagi Anda. Mohon maaf bila ada
kata-kata yang kurang berkenan. Wallahu a'lam bish-shawab.
Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri