Friday, 29 November 2013

17 doktrin Syiah yang disembunyikan dari kaum Muslimin

Saat meliput aksi bubarkan Syiah di beberpa tempat di Jakarta,arrahmah.com mendapati beberapa aparat kepolisian yang tercengang mendengarkan orasi para ustadz yang membeberkan bahwa Syiah bukan Islam.Saat itu para ustadz menjelaskan beberapa fakta dan data dari kitab-kitab yang ditulis para pendeta Syiah. Antara lain syahadat orang Syiah, rukun Islam orang Syiah, rukun iman agama Syiah, Al Qurannya, sikap mereka kepada istri Nabi Muhammad Shallalahu alaihi wa sallam, dan para sahabat hingga nikah mutah. Semuanya berbeda dengan ajaran agama Islam.“Wah bahaya juga ya Syiah,” ujar salah seorang polisi yang sembari bertugas menjaga aksi, menyimak uraian seorang ustadz tentang nikah mut’ah.Sekelumit gambaran ini menunjukkan mayoritas masyarakat Islam Indonesia khususnya, tidak mengetahui kesesatan dan bahaya Syiah. Bahkan kaum Muslimin kebanyakan masih menganggap Syiah adalah Islam. Tentunya hal ini berbahaya.Untuk itu pada kesempatan kali ini redaksi menurunkan tulisan Amir Majelis Mujahidin Ustadz Muhammad Thalib Al Yamani yang dengan gamblang menjelaskan 17 doktrin Syiah yang mereka sembunyikan. Membongkar kesesatan Syiah dari kitab-kitab yang ditulis para pendeta mereka. Hal ini sangat membahayakan aqidah kaum Muslimin. Semoga bermanfaat, insaya Allah.Ada tujuh belas doktrin Syi’ah yang selalu mereka sembunyikan dari kaum Muslimin sebagai langkah taqiyyah (menyembunyikan Syi’ahnya) sebagai berikut.Dunia dengan seluruh isinya adalah milik para imam Syi’ah. Mereka akan memberikan dunia ini kepada siapa yang dikehendaki dan mencabutnya dari siapa yang dikehendakinya (al-Kulainî, Ushûlul Kâfi, hlm. 259, cet. India).Jelas doktrin semacam ini bertentangan dengan firman Allah Subhânahu wata’âlâ, surat al-A’râf [7]: 128: “Sesungguhnya bumi ini semua milik Allah, dan diwariskan-Nya kepada siapa yang dikehendaki di antara hamba-hamba-Nya.” Kepercayaan Syi’ah di atas menunjukkan penyetaraan kekuasaan para imam dengan Allah dan doktrin ini merupakan akidah syirik.‘Ali bin Abî Thâlib yang diklaim sebagai imam Syi’ah yang pertama dinyatakan sebagai dzat yang pertama dan terakhir, yang zhahir dan yang batin sebagaimana termaktub dalam surat al-Hadîd [57]: 3: “Allah lah yang ada sebelum yang lain ada, yang tetap kekal setelah yang lain musnah, yang tampak ciptaan-Nya, dan yang tidak tampak Dzat-Nya.” (Rijâlul Kashi hlm. 138).Doktrin semacam ini jelas merupakan kekafiran Syi’ah yang berdusta atas nama Khalifah ‘Ali bin Abî Thâlib. Dengan doktrin semacam ini Syi’ah menempatkan ‘Ali sebagai Tuhan. Dan hal ini sudah pasti merupakan tipu daya Syi’ah terhadap kaum Muslimin dan kesucian akidahnya.Para imam Syi’ah merupakan wajah Allah, mata Allah, dan tangan-tangan Allah yang membawa rahmat bagi para hamba Allah (Ushûlul Kâfi hlm. 83).Amirul Mukminin ‘Ali bin Abî Thâlib oleh Syi’ah dikatakan menjadi wakil Allah dalam menentukan surga dan neraka, memperoleh sesuatu yang tidak diperoleh oleh manusia sebelumnya, mengetahui yang baik dan yang buruk, mengetahui segala sesuatu secara rinci yang pernah terjadi dahulu maupun yang gaib (Ushûlul Kâfi hlm. 84).Keinginan para imam Syi’ah adalah keinginan Allah juga (Ushûlul Kâfi hlm. 278).Para imam Syi’ah mengetahui kapan datang ajalnya dan mereka sendiri yang menentukan saat kematiannya karena bila imam tidak mengetahui hal-hal semacam itu, maka tentu ia tidak berhak menjadi imam (Ushûlul Kâfi hlm. 158).Para imam mengetahui apa pun yang tersembunyi dan dapat mengetahui dan menjawab apa saja bila kita bertanya kepada mereka karena mereka mengetahui hal gaib sebagaimana yang Allah ketahui (Ushûlul Kâfi hlm. 193).Allah itu bersifat bada’ yaitu baru mengetahui sesuatu bila sudah terjadi. Akan tetapi, para imam Syi’ah telah mengetahui lebih dahulu hal yang belum terjadi (Ushûlul Kâfi hlm. 40). Menurut al-Kulainî, Allah tidak mengetahui bahwa Husein bin ‘Ali akan mati terbunuh. Menurut mereka Tuhan pada mulanya tidak tahu, karena itu Tuhan membuat ketetapan baru sesuai dengan kondisi yang ada. Akan tetapi, imam Syi’ah telah mengetahui apa yang akan terjadi. Oleh sebab itu, menurut doktrin Syi’ah, Allah bersifat bada’ (Ushûlul Kâfi hlm. 232).Para imam Syi’ah merupakan gudang ilmu Allah dan juga penerjemah ilmu Allah. Para imam bersifat maksum (bersih dari kesalahan dan tidak pernah lupa apalagi berbuat dosa). Allah menyuruh manusia untuk menaati imam Syi’ah, tidak boleh mengingkarinya, dan mereka menjadi hujjah (argumentasi kebenaran) Allah atas langit dan bumi (Ushûlul Kâfi hlm. 165).Para imam Syi’ah sama dengan Rasulullah Shallallâhu ‘alayhi wasallam (Ibid).Yang dimaksud para imam Syi’ah adalah ‘Ali bin Abî Thâlib, Husein bin ‘Ali, Hasan bin ‘Ali, dan Muhammad bin ‘Ali (Ushûlul Kâfi hlm. 109).Al-Qur’an yang ada sekarang telah berubah, dikurangi, dan ditambah (Ushûlul Kâfi hlm. 670). Salah satu contoh ayat al-Qur’an yang dikurangi dari aslinya yaitu ayat al-Qur’an an-Nisâ’ [4]: 47, menurut versi Syi’ah berbunyi: “Yâ ayyuhalladzîna ûwtul kitâba âminû bimâ nazzalnâ fî ‘Aliyyin nûranmubînan“. (Fashlul Khithâb, hlm. 180)Menurut Syi’ah, al-Qur’an yang dibawa Jibril kepada Nabi Muhammad ada 17 ribu ayat, namun yang tersisa sekarang hanya 6660 ayat (Ushûlul Kâfi hlm. 671)Menyatakan bahwa Abû Bakar, ‘Umar, Utsman bin Affan, Muâwiyah, ‘Aisyah, Hafshah, Hindûn, dan Ummul Hakâm adalah makhluk yang paling jelek di muka bumi; mereka ini adalah musuh-musuh Allah. Barangsiapa yang tidak memusuhi mereka, maka tidaklah sempurna imannya kepada Allah, Rasul-Nya, dan imam-imam Syi’ah (Haqqul Yâqîn hlm. 519 oleh Muhammad Baqîr al-Majlisî).Menghalalkan nikah mut’ah, bahkan menurut doktrin Syi’ah orang yang melakukan kawin mut’ah empat kali derajatnya sama tingginya dengan Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alayhi wasallam (Tafsîr Minhajush Shâdiqîn hlm. 356, oleh Mullah Fathullah Kasanî).Menghalalkan tukar-menukar budak perempuan untuk disetubuhi kepada sesama temannya. Kata mereka, Imam Ja’far berkata kepada temannya, “Wahai Muhammad, kumpulilah budakku ini sesuka hatimu. Jika engkau sudah tidak suka kembalikan lagi kepadaku” (Al-Istibshar III hlm. 136 oleh Abû Ja’far Muhammad Hasan ath-Thûsî).Rasulullah dan para shahabat akan dibangkitkan sebelum hari kiamat. Imam Mahdi, sebelum hari kiamat, akan datang dan dia membongkar kuburan Abû Bakar dan ‘Umar yang ada di dekat kuburan Rasulullah. Setelah dihidupkan, kedua orang ini akan disalib. (Haqqul Yaqîn hlm. 360 oleh Mulla Muhammad Baqîr al-Majlisî).Ketujuh belas doktrin Syi’ah di atas, apakah dapat dianggap sebagai aqidah Islam sebagaimana dibawa oleh RasulullahShallallâhu ‘alayhi wasallam dan dipegang teguh oleh para shahabat serta kaum Muslimim yang hidup sejak zaman tabi’in hingga sekarang? Adakah orang masih percaya bahwa Syi’ah itu bagian dari umat Islam? Menurut Imam Malik dan Imam Ahmad, barangsiapa yang tidak mengafirkan akidah Syi’ah ini, maka dia termasuk kafir.Kitab-kitab tersebut di atas adalah kitab-kitab induk atau rujukan pokok kaum Syi’ah yang posisinya seperti halnya kitab-kitab Hadis Imam Bukhârî, Muslim, Ahmad bin Hambal, Nasâ’i, Tirmidzî, Abû Dawud, dan Ibnu Majah bagi kaum Muslimin. Oleh karena itu, dengan tegas harus ditolak upaya-upaya untuk menanamkan kesan bahwa Syi’ah adalah bagian dari kaum Muslimin, hanya berbeda dalam beberapa hal yang tidak prinsip.Syi’ah Zaidiyah sebagai golongan Syi’ah yang dekat dengan Ahlus-Sunnah sebenarnya tidak ada. Karena Zaid bin Zainul Abidin bin Husain di masa hidupnya menolak dijadikan Imam oleh golongan Syi’ah. Maka doktrin Syi’ah Zaidiyah yang diatas namakan Zaid bin Zainul Abidin bin Husain adalah doktrin dusta. (Naasikhut-Tawaarih juz 2 hal 590, oleh Mirza Taqii Khan)Penilaian ulama Islam tentang Syi’ahUntuk memperoleh bahan kajian secara mendalam, berikut ini kami sajikan kutipan pernilaian para ulama Islam tentang. Syi’ah.1. Imam Ahmad bin HambalIbnu ‘Abdil Qawwî berkata: “Imam Ahmad telah mengafirkan orang-orang yang menjauhkan diri dari shahabat, orang yang mencela ummul Mukminin ‘Aisyah, dan menuduhnya berbuat serong, padahal Allah telah mensucikannya dari tuduhan tersebut seraya beliau kemudian membaca ayat: “Allah menasehati kalian agar kalian tidak mengulang lagi perbuatan itu selama-selamanya, jika kalian benar-benar beriman.”[1]2. Al-Bukhârî (wafat tahun 256 H)Ia berkata: “Bagi saya sama saja, apakah shalat di belakang imam beraliran Jahm atau Rafidhah, atau shalat di belakang imam Yahudi atau Nasrani. Dan seorang Muslim) tidak boleh memberi salam kepada mereka, mengunjungi mereka ketika sakit, kawin dengan mereka, menjadikan mereka sebagai saksi dan memakan sembelihan mereka.”[2]3. Ibnu Katsîr[3]Ibnu Katsir telah mengetengahkan hadis-hadis yang sah di dalam As-Sunnah dan berisikan sanggahan terhadap anggapan adanya ayat al-Qur’an dan wasiat kepada ‘Ali yang diklaim oleh golongan Syi’ah. Kemudian beliau memberi komentar sebagai berikut:“Sekiranya masalah (wasiat) sebagaimana yang mereka perkirakan itu ada, niscayalah tidak seorang shahabat Nabi pun yang akan mengingkari. Sebab, mereka ini merupakan manusia yang paling taat kepada Allah dan Rasul-Nya, baik selama beliau masih hidup maupun sesudah beliau wafat. Karena itu, sama sekali tidak benar kalau mereka berani mengambil ketetapan mendahulukan orang yang tidak didahulukan oleh Rasulullah dan mengakhirkan orang yang didahulukan oleh Rasulullah dengan ketetapannya. Barangsiapa menganggap para shahabat yang diridhai oleh Allah dengan anggapan semacam itu, berarti menganggap semua shahabat berlaku durhaka, dan bersepakat menentang Rasulullah serta melawan putusan dan ketetapan beliau. Siapa saja yang berani berpendapat semacam ini, berarti dia telah melepaskan tali simpul Islam, kafir terhadap ijma’ seluruh umat Islam. Dan menumpahkan darah orang semacam ini lebih halal daripada membuang khamr.[4]Dengan sah terbukti dari pendirian golongan Syi’ah sendiri, sebagaimana tersebut di atas, bahwa mereka mempunyai anggapan, sesungguhnya Rasulullah Shallallâhu ‘alayhi wasallam telah memberikan suatu dekrit untuk ‘Ali, tetapi para shahabat menolak dekrit tersebut, dan karena itu mereka murtad. Inilah pendapat yang dilontarkan oleh Syi’ah dewasa ini dan para leluhur mereka dahulu.4. Muhammad bin ‘Alî asy-Syaukâni [5]Beliau berkata: “Sungguh inti dakwah Syi’ah adalah menyimpangkan agama dan melawan syariat kaum Muslimin. Tetapi yang sangat diherankan dari sikap para ulama mereka, sebagai pemimpin agama, adalah mengapa mereka membiarkan orang-orang itu melakukan kemungkaran yang tujuan dan maksudnya sangat busuk. Orang-orang yang rendah tersebut ketika bermaksud menentang syariat Islam yang suci dan menyalahi, mereka melakukan cercaan terhadap kehormatan para penegak syariat ini, yaitu orang-orang yang menjadi jalan sampainya syariat tersebut kepada kita, menjerumuskan orang-orang awam dengan caranya yang terkutuk itu dan cara setan, sehingga mereka mengutarakan celaan dan laknat kepada Khulafâur Râsyidîn.[6]—————————-[1] Q.s. an-Nûr [24]: ayat 17, ayat ini menjadi dasar pendapat Imam Ahmad, dalam buku karya Imam Abî Muhammad Rizkullah bin ‘Abdul Qawwî at-Tamimî (wafat tahun 480 H.): al Warqah 21.[2] Imam Bukhârî, Khalku Af’alil ‘Ibad, hlm. 125.[3] Beliau adalah tokoh ahli hadis serta mufti yang cemerlang—sebagaimana dikatakan oleh adz-Dzahâbî. Nama lengkapnya Abul Fisâ’ Ismail bin ‘Umar bin Katsîr. Asy-Syaukâni berkata: “Beliau punya banyak karangan berfaedah, antara lain: Tafsîr Ibnu Katsîr, yang dapat digolongkan tafsir yang terbaik, bahkan mungkin yang paling baik.” Wafat pada tahun 774 H. (Ibnu Hajar, ad-Durâru al-Kâminah, 1:373-374; Asy-Syaukâni, al-Badr at-Thali’, 1: 153).[4] Bacalah halaman 751 dan 1125 dari ar-Risalah.[5] Imam Muhammad bin ‘Alî bin Muhammad bin ‘Abdillah asy-Syaukâni, seorang ulama Yaman, pengarang kitabFathul Qadîr, Nailul Authar dan lain-lain kitab-kitab yang bermanfaat. Wafat pada tahun 1250 H., bacalah al-Badr at-Thalî’, 2: 214 – 225.[6] Bacalah kitab Thalabul ‘Ilmi, Asy-Syaukani(arrahmah.com)
A. Z. Muttaqin - Jum'at, 18 Muharram 1435 H / 22 November 2013 11:16Oleh:Ustadz Muhammad Thalib Al Yamani (Amir Majelis Mujahidin)(Arrahmah.com) –

Televisi dan Anak-anak


Setelah sekian lama merencanakan, akhirnya tiba juga kesempatan bagi Andi untuk mengajak istri dan anaknya berlibur di sebuah vila di kawasan Puncak. Ia mendapat kesempatan cuti beberapa hari dari kantornya, tepat bersamaan dengan liburan sekolah Marco, anaknya yang berusia 7 tahun. Terbayang oleh reaksi gembira istri dan anaknya, bila ia mengutarakan rencananya itu. Setibanya di rumah, diutarakannya rencana liburan keluarga dengan penuh semangat. Akhirnya mereka pun pergi liburan keluarga. Akan tetapi setibanya di penginapan, Marco mencari-cari televisi dan tidak menemukannya. Ternyata penginapan tersebut memang tidak menyediakan fasilitas televisi. Marco tampak jengkel dan sedih sekali, dan keluhnya, " Kalau tak ada TV…. Apalagi yang bisa saya kerjakan di sini ? Lebih enak di rumah saja….."

Cerita di atas hanyalah salah satu contoh kejadian yang seringkali terjadi di kehidupan modern ini. Anak dapat begitu terikat dengan televisi, bahkan seperti kecanduan. Efek kecanduan TV ini, hanyalah satu dari begitu banyak efek yang diberikan oleh kemajuan teknologi TV. Apa saja pengaruh TV pada anak-anak dan bagaimana kita mengatasinya, mari kita tengok bersama.
Kita semua tahu , betapa besar kemajuan danperubahan yang terjadi semenjak TV ditemukan. Kita dapat menyaksikan liputan berita tentang berbagai peristiwa dari seluruh dunia, kita dapat menyaksikan berbagai jenis film, dari film kartun, drama, biografi, aksi, edukasi, musik dan lain sebagainya, dari dalam dan luar negeri. Jadi, jika memang begitu banyak kemajuan yang diberikan dengan adanya TV, lalu apa masalahnya ? Sebenarnya TV-nya sendiri memang tidak bermasalah. Problemnya adalah berapa lama anak-anak kita menonton TV, dan apa pengaruhnya bagi mereka ?
Belum lama ini, American Academy of Pediatrics (AAP) dalam publikasi di jurnal ilmiahnya, "Pediatrics", membuat pernyataan yang menimbulkan reaksi pro dan kontra. Pernyataan itu antara lain :
"… bahwa 2 tahun pertama seorang bayi adalah masa yang sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan otak, dan dalam masa itu anak membutuhkan interaksi dengan anak atau orang lain.Terlalu banyak menonton TV akan memberi pengaruh negatif pada perkembangan otak. Hal ini benar, terutama bagi usia yang masih awal, di mana bermain dan bicara sangatlah penting…."
Lebih lanjut, AAP mengeluarkan pernyataan tidak merekomendasikan anak di bawah 2 tahun untuk menonton TV. Sedangkan untuk anak yang berusia lebih tua, AAP merekomendasikan batasan menonton TV hanya satu atau dua jam saja, dan yang ditonton adalah acara yang edukatif dan tidak menampilkan kekerasan.
Efek Buruk ?
Sebenarnya mengapa TV yang bisa memberi efek buruk ? Pokok permasalahan yang paling besar, sebenarnya adalah ketidakmampuan seorang anak kecil membedakan dunia yang ia lihat di TV dengan apa yang sebenarnya. Bagi orang yang sudah dewasa, tidak ada masalah, sebab ia tahu apa yang sungguh-sungguh terjadi di dunia atau yang hanya fiksi belaka. Bila orang dewasa melihat film – film aksi atau horor, mereka tahu apa yang mungkin atau apa yang tidak mungkin. Orang dewasa tahu bahwa tokoh Rambo, Frankenstein, Zombie, dan lain-lain adalah karangan saja. Orang dewasa juga tahu bahwa orang tidak dibunuh atau dipukul sungguh-sungguh dalam film. Sebaliknya, seorang anak kecil kebanyakan belum mengenal dan mengetahui apa itu akting, apa itu efek film, atau apa itu tipuan kamera… dan lain sebagainya. Bagi mereka, anak-anak ini, dunia di luar rumah adalah dunia yang seperti apa yang ada di TV, yang mereka lihat setiap kali.
Di mata anak-anak, kekerasan yang ada menjadi hal yang biasa, dan boleh-boleh saja dilakukan apalagi terhadap orang yang bersalah,karena memang itu semua ditunjukkan dalam film-film. Bahkan ada kecenderungan bahwa orang yang melakukan kekerasan terhadap "orang jahat" adalah suatu tindakan yang heroik, tidak peduli dengan prosedur hukum yang seharusnya berlaku. Hal ini pernah dibuktikan di Amerika Serikat, di mana penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa karena terlalu banyak menonton TV, anak dapat jadi beranggapan bahwa kekerasan adalah hal yang wajar, dan bagian dari hidup sehari-hari. Dan sebagai akibatnya, mereka menjadi lebih agresif dan memiliki kecenderungan untuk memecahkan tiap persoalan dengan jalan kekerasan terhadap orang lain.
Efek lain dari terlalu banyak menonton TV, adalah anak menjadi pasif dan tidak kreatif. Mereka kurang beraktivitas, tetapi hanya duduk di depan TV, dan melihat apa yang ada di TV. Baik secara fisik maupun mental, anak menjadi pasif, karena memang orang yang menonton TV tidak perlu berbuat apa-apa. Hanya duduk, mendengar dan melihat apa yang ada di TV. Kemampuan berpikir dan kreatifitas anak tidak terasah, karena ia tidak perlu lagi membayangkan sesuatu seperti halnya bila ia membaca buku atau mendengar musik. Hal lain yang menyertai kepasifan ini adalah anak cenderung jadi lebih gemuk, bahkan bisa overweight karena mereka biasanya menonton TV sambil makan kudapan (cemilan), terus menerus tanpa terasa.
Lain lagi dengan efek "candu" yang diberikan oleh TV. Jangankan anak-anak, orang dewasa pun kalau sudah kecanduan menonton film, bisa melupakan segalanya. Orang dewasa saja, yang boleh dikatakan sudah memiliki kekuatan dan kepribadian yang cukup matang, kadang tidak bisa menahan diri untuk tidak menonton sinetron atau telenovela, ……apalagi anak-anak ? Anda tentu sudah merasakan betapa anak-anak Anda begitu kecanduan terhadap film-film dan tokoh kartun seperti Pokemon, Winnie the Pooh, Doraemon, Dragon Ball, dan lain sebagainya…
Kecanduan menonton TV ini akan jadi masalah bila anak sampai tidak mau bermain di luar, dengan lingkungan sekitarnya. Ia menjadi tidak bersosialisasi, dan dunianya tidak bertambah luas. Stimulasi berupa interaksi sesama anak dan orang dewasa di sekitarnya menjadi minimal, dan dapat berakibat anak jadi "kuper" (kurang pergaulan). Waktu belajar pun akan ikut terpotong oleh jam-jam tertentu di mana acara TV sedang diputar.
Kelanjutan dari berkurangnya waktu belajar ini tentunya juga memberi efek pada prestasi di sekolah. Anak yang belajarnya kurang, tentu nilai-nilainya di sekolah akan kurang baik dibanding teman-temannya yang lebih rajin.
Hal lain lagi, adalah masalah pengaruh iklan di TV yang semakin hari semakin bombastis. Ada begitu banyak iklan yang menawarkan berbagai barang, dari mainan anak, makanan, minuman, dan lain sebagainya. Iklan –iklan itu dengan begitu bombastisnya memberikan janji-janji kesenangan dan kebahagiaan keluarga yang akan diperoleh bila membeli produk tersebut. Ini secara tidak sadar, dapat menanamkan pada anak nilai-nilai konsumerisme dan bahwa kebahagiaan / kesuksesan sebuah keluarga diukur dari kemampuan memiliki produk terbaru yang ditawarkan. Sekali lagi kita bandingkan dengan diri kita (orang dewasa) sendiri. Orang dewasa saja banyak terpengaruh oleh iklan-iklan yang ada di TV, ….bagaimana dengan anak yang masih kecil ?
Ada satu hal lagi yang juga sering terjadi, tetapi kali ini bukan efek pada anaknya secara langsung, tapi melalui orang tuanya. Kadang kala orang tua malas atau tidak bisa menghadapi anaknya yang maunya macam-macam, dan mereka menyuruh anaknya itu duduk manis menonton TV. Dengan menjadikan TV sebagai "Electronic babysitter", akhirnya si anak menjadi berkurang waktunya untuk bersama orang tuanya, dan tentunya mengurangi kedekatan antara si anak dan orang tua.
Efek baik juga banyak
Jadi apa memang TV sejelek itu efeknya bagi anak ? Sebenarnya tidak juga, sebab ada banyak juga efek baiknya. Hal ini pun sudah ada penelitian yang mendasarinya. Berbagai efek baik dari TV antara lain misalnya dapat menambah kosakata (vocabulary) terutama kata-kata yang tidak terlalu sering digunakan sehari-hari. Anak juga dapat belajar tentang berbagai hal melalui program edukasi dari siaran televisi. Akan tetapi sayangnya persentasi acara televisi yang bersifat pendidikan masih sangat sedikit.
Dengan melihat berbagai acara di TV (selain film cerita) misalnya acara musik, olahraga, kesenian, berita dll, TV juga dapat menambah wawasan dan minat. Anak akan jadi mengenal berbagai aktifitas yang bisa dilakukannya. Anak akan mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, perkembangan peristiwa yang terjadi di dunia, dan perkembangan permasalahan yang ada di luar lingkungannya.
Film pun ada juga yang bagus dan mendidik, yang selain memberi hiburan juga mengajarkan anak berbagai hal yang baik, tentang sikap-sikap yang baik, tentang nilai-nilai kemanusiaan, tentang nilai keagamaan, tentang perilaku sehari-hari yang seharusnya kita lakukan, dan lain sebagainya.
Hanya sayangnya, acara yang baik seperti itu belum banyak. Malah bisa dibilang masih minimal sekali, dan memang masih kurang diperhatikan oleh pihak pengelola TV. Jadi bagaimana ? Apa yang bisa kita perbuat untuk masalah ini ? Berikut ini beberapa solusi yang mungkin bisa diterapkan :
Bagaimana Solusinya ?
Idealnya, efek positif dari kemajuan televisi ini kita perluas, dan efek negatif yang ada ini kita hilangkan, atau minimal kita tekan seminimal mungkin. Untuk itu, ada beberapa hal yang mungkin bisa kita lakukan untuk menghadapi masalah ini, antara lain :
  • Untuk anak yang masih sangat kecil, ia belum bisa membedakan antara siaran TV atau rekaman video yang diputar. Orang tua dapat memilihkan film (video) yang menarik dan mendidik anak, sesuai usianya itu. Akan tetapi ada satu hal yang harus diingat, jangan memutarkan video yang kita sendiri belum lihat, minimal ketahui persis apa isinya.
  • Periksalah jadwal acara TV, sehingga kita bisa mengatur jadwal film / acara apa yang akan ditonton bersama anak. Atau paling tidak, kalau tidak bisa menemaninya menonton, kita tetap tahu acara apa yang ia tonton. Dengan mencari dan melihat resensi atau ulasan mengenai film atau acara itu, kita juga akan tahu kira-kira seperti apa isi acaranya, dan akhirnya kita dapat mempertimbangkan pantas tidak acara itu dilihat anak kita
  • Sering terjadi, setelah acara yang dipilih selesai ditonton, anak tertarik menonton acara berikutnya, dan akhirnya jadwal yang sudah diatur (misalnya untuk belajar) jadi berantakan. Untuk mengatasi hal ini, sebaiknya selain memperhatikan acara apa yang mau ditonton, perhatikan juga acara berikutnya apa. Dan jika kita tidak menghendaki anak menonton terus, matikanlah segera pesawat TV seusai acara yang dipilih, dan sebelum acara berikut dimulai. Sekali anak tertarik pada acara berikutnya, akan sulit menyuruhnya berhenti menonton.
  • Dengan menemani anak menonton TV, kita dapat mengajaknya membahas apa yang ada di TV, dan membuatnya mengerti bahwa apa yang ada di TV tidak semua sama dengan apa yang ada sebenarnya. Orang tua juga akan semakin erat hubungan komunikasinya dengan anak.
  • Diskusikan dan bantulah anak memperoleh manfaat dari acara TV, dengan menuntunnya mengambil nilai positif dari acara tersebut. Dengan memanfaatkan saat-saat ini , bahkan orang tua dapat mengajarkan nilai-nilai kehidupan kepada anak.
  • Masalah kurangnya waktu belajar karena anak terlalu banyak menonton TV, dapat diatasi dengan cara membiasakan anak tidak menonton TV pada hari-hari sekolah. Jika hal ini terlalu berat, bisa saja dibuat aturan rumah tangga sendiri, tentang jam tertentu kapan anak boleh menonton TV, dan kapan untuk aktifitas yang lain. Menerapkan hal ini memang tidak mudah, karena anak tentu akan tidak setuju. Jadi di sini memang perlu kepandaian dan ketegasan orang tua untuk menerapkan peraturan dalam rumah tangga mengenai waktu menonton TV. Di sini orang tua harus memberi contoh pada anak , dengan tidak banyak menonton TV. Jika anak melihat orang tuanya sering menonton TV, sedangkan ia tidak boleh, tentu ia akan merasa diperlakukan tidak adil.
  • Pada beberapa keluarga, ada kebiasaan untuk menyalakan TV bukan untuk ditonton tapi hanya untuk suara latar di rumah, agar tidak terlalu terasa sepi. Hal ini biasanya pada rumah-rumah yang besar, dengan penghuni yang tidak banyak. Sebaiknya jika anak ada di rumah kebiasaan ini dihentikan atau diganti dengan menyalakan radio. Sebab dengan menyalakan TV, sama dengan mengundang anak menontonnya.
  • Sebaiknya lokasi TV di rumah juga diatur sedemikian rupa, agar tidak berdekatan dengan tempat anak belajar. Anak yang sedang belajar, akan menjadi tidak bisa konsentrasi bila ia mendengar atau melihat ada acara yang menarik di TV. Perhatiannya akan mudah sekali teralih dan ia menjadi ingin menonton TV. Jika TV tidak terdengar atau tidak terlihat dari tempat belajar anak, kalaupun ada yang sedang menonton TV, anak tidak terlalu terganggu.
  • Ajak anak untuk melakukan banyak aktifitas lain, selain hanya menonton TV. Kita dapat mengajak anak bermain atau berolahraga di sekitar rumah. Atau dapat juga memperkenalkan dan mengajarkannya suatu hobi yang baru, sehingga ia dapat bermain atau mengerjakan hobinya sendiri. Akan tetapi orang tua juga harus hati-hati dalam memperkenalkan permainan atau hobi bagi anak. Sebagai contoh, jika kita malah memperkenalkannya dengan video game, tentu efeknya tidak jauh berbeda dengan menonton TV. Keduanya bersifat adiktif bagi anak-anak, menjadikannya pasif, dan menjadikan tidak bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Jika anak memiliki banyak aktifitas, secara otomatis tentunya ia akan semakin sedikit menonton TV.
  • Hal terakhir yang bisa kita lakukan, bila semuanya gagal, sebenarnya ada di pesawat TV kita sendiri. Bukankah setiap televisi ada tombol "off" nya ?…. Dan tidak ada pesawat TV yang tidak bisa dimatikan. Bila memang acaraTV mengganggu, matikan saja pesawat televisinya..
Memang harus diingat bahwa setiap keadaan rumah tangga berbeda. Apa yang cocok bagi satu keluarga belum tentu cocok bagi keluarga yang lain. Di sinilah orang tua harus pandai-pandai membuat "aturan main" di dalam keluarga.
Akhirnya, setuju atau tidak dengan uraian di atas adalah sebuah pilihan. Dan adalah sebuah pilihan juga bagi orang tua, untuk peduli dengan aktifitas dan perkembangan anakknya. Di Indonesia, siaran televisi memang tidak seperti di Amerika, Australia, atau negara barat lain. Siaran televisi di Indonesia juga tidak sebanyak di luar negeri, kecuali jika keluarga anda memiliki antena parabola atau berlangganan televisi kabel. Televisi di Indonesia memang belum memberi pengaruh sebesar seperti di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, namun alangkah baiknya jika kita semua sudah mulai memperhatikan masalah ini sebelum terlambat.
oleh : Dr. Martin Leman

Friday, 15 November 2013

7 Rahasia Kelurga Bahagia

SETIAP pasangan yang menikah, baik yang baru ataupun yang sudah lama, pasti menginginkan rumah tangganya bahagia, menenangkan dan menentramkan, ingin menjadi keluarga yang samara (sakinah, mawadah, warahmah) .Kalau ada yang berpikir, bahwa kebahagiaan rumah tangga terletak pada masalah uang atau ekonomi, kenapa banyak orang yang kaya, artis, pejabat yang bergelimang materi banyak yang cerai, atau bahkan mendapatkan perlakuan yang tidak pantas dari pasangan hidupnya sendiri?

Ini berarti bahwa,bukan hanya faktor materi yang menyebabkan keluarga menjadi bahagia,rumah tangga menjadi tentram. Materi atau uang,bukan satu-satunya cara untuk membuat rumah tangga menjadi SAMARA. Di bawah ini akan ada beberapa hal bagaimana membuat rumah tangga SAMARA :

1. JAGALAH DENGAN SHALAT 5 WAKTU
Shalat lima waktu adalah faktor paling penting dalam menjaga keberlangsungan rumah tangga,do’a-do’a dalam shalat tersebut menjadi hal dasar ketentraman. Karena setelah shalat kita akan menjadi lebih, tenang hati dan perasaannya. Shalat juga merupakan mediasi penghambaan mahluk kepada Khaliqnya, dia bisa mengadukan seluruh keluh kesah dan harapannya dalam shalat tersebut. Suami sebagai sosok pemimpin harus mampu menggerakkan seluruh anggota keluarganya untuk menegakkan dan menjalankan shalat lima waktu,dengan memberikan keteladanan kepada seluruh anggota keluarga,atau memberikan hukuman kepada anggota keluarga yang meninggalkan shalat.hal tersebut akan mampu memberikan dampak psikologis yang baik dalam rumah tangga.

2 .PELAJARI ILMU TENTANG ISLAM
Seorang suami wajib menjadi teladan bagi keluarganya. Salah satu diantaranya adalah memberi bekal ilmu tentang islam,entah dengan suami sendiri yang mengajarkannya. Atau suami mengharuskan anggota keluarganya pada waktu yang telah ditentukan untuk mendengarkan ceramah-ceramah islami, Atau menyediakan buku-buku pengetahuan islam untuk dibaca, lalu buatlah jadwalnya. Kapan anggota keluarga harus mendengarkan ceramah atau membaca buku. Ini akan berdampak penting dengan keluarga, karena mereka akan memiliki banyak pengetahuan mengenai masalah agama Islam. Pada akhirnya mereka akan mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah, di sekolah, atau di lingkungan masyarakat.

3 .SERING UCAPKAN KATA-KATA CINTA KEPADA PASANGAN
Hal ini yang sering dilupakan oleh pasangan suami istri,terlebih yang usia pernikahannya sudah lama,padahal ini adalah hal yang sangat ampuh dalam meraih kebahagiaan dalam keluarga.Suami harus sering mengucapkan kata-kata cinta,yang ringan saja,namun sangat berdampak luar biasa. Misalnya : “Aku sayang kamu”, “Bunda, kamu cantik, aku nyaman berada di sampingmu”, dan masih banyak yang lainnya

4. BERIKAN KEJUTAN ATAU HADIAH-HADIAH KECIL
Ini juga sesuatu yang penting dalam hubungan berumah tangga, memberikan kejutan dan hadiah-hadiah yang kecil saja,misalnya pada saat hari ulang tahunnya, suami atau istri mengucapkan selamat ulang tahun, dan berikan hadiah yang kecil saja.pasangan akan sangat bahagia dengan hal ini.

5. JANGAN SUKA MEMBANDINGKAN
Jangan pernah membandingkan pasangan kita dengan siapapun, termasuk ibu kita, terutama suami, jangan pernah membandingkan istri dengan siapapun, termasuk ibunya. Misalnya jangan membandingkan masakan istri kita dengan ibu kita, jangan membandingkan istri kita dengan saudara-saudara kita. Ini akan berakibat fatal dan dalam waktu jangka panjang akan menyebabkan hubungan tidak romantis.

6. LUANGKAN WAKTU UNTUK KELUARGA
Waktu adalah sesuatu yang paling berharga yang tak ternilai dengan apapun. Meski Anda memiliki uang berlimpah ,jika Anda tidak memiliki waktu untuk keluarga, misalnya untuk jalan-jalan bersama, atau hanya sekadar makan bersama di rumah, maka jangan mengharapkan akan ada kebahagian dalam keluarga Anda. Maka luangkanlah waktu untuk mereka, karena meski sedikit, itu sangat berharga untuk mereka.

7. BERUSAHA TERUS UNTUK MENCAPAI KEBEBASAN FINANSIAL
Walaupun Anda sudah kerja,memiliki penghasilan yang cukup bahkan besar,tidak ada salahnya Anda mencoba untuk menekuni bisnis untuk mencapai kebebasan finansial. Istri atau anggota keluarga di rumah bisa mencoba untuk menjalankannya. Kenapa begitu? Karena jika Anda hanya bekerja, Anda tidak pernah tahu sampai kapan Anda akan bekerja, atau sampai kapan perusahaan Anda akan eksis. Namun jika Anda telah memiliki usaha sendiri di rumah, maka Anda tidak usah khawatir dalam masalah keuangan Anda.

Inilah 7 Kalimat yang Menghambat Diri untuk Sukses


1.SAYA TIDAK BISA
Penghambat utama dan paling sering terdengar adalah kalimat "Saya tidak bisa."
Sungguh aneh sebenarnya mengatakan kalimat ini. Memang dulu waktu masih kecil, apakah Anda bisa baca seperti saat ini membaca artikel ini? Tidak bukan? Tapi sekarang Anda bisa membaca. Artinya yang sekarang Anda tidak bisa, nanti akan bisa jika Anda mau belajar. Tidak ada bayi lahir sebagai pebisnis hebat. Misalnya ada berita: Telah lahir seorang pebisnis hebat Telah lahir seorang penjual ulung Telah lahir seorang pembicara hebat Tidak ada saudara!
Yang lahir itu di mana-mana juga seorang bayi, anak laki-laki atau perempuan. Bagaimana pun hebatnya seorang Ibnu Sina, Muhammad Al Fatih, dan siapa pun itu, tetap saja saat lahir tidak bisa apa-apa kecuali yang bisa dilakukan bayi pada umumnya. Saat Anda mengatakan tidak bisa, percayalah semua orang juga pernah tidak bisa. Anda tidak bisa, karena memang belum berlajar dan berlatih. Jadi intinya Anda mau atau tidak? Itu saja!
2. SAYA LAKUKAN BESOK/NANTI SAJA
Jika Bisa Sekarang, kenapa Besok? Memang benar kok, saya tidak bisa melakukannya sekarang. Hari ini saya sibuk, jadi saya lakukan besok.
Baiklah, tidak masalah, jika memang benar-benar Anda sibuk hari ini sehingga tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Namun yang akan menjadi penghambat adalah saat Anda sebenarnya bisa melakukan sekarang, kemudian Anda mengatakan akan melakukan besok. Siapa yang menjamin Anda bisa melakukan besok?
Bisa jadi besok pun Anda akan mengatakan Saya akan lakukan besok. Lusa, Anda akan mengatakan yang sama. Dan seterusnya, sampai Anda tidak melakukan sama sekali. Serius, jika Anda mau maju, Anda harus melakukan apa yang harus Anda lakukan itu sekarang.
SEKARANG! Kenapa? Jika Anda melakukan sekarang apa yang seharusnya Anda lakukan, Anda akan menciptakan momentum dan sangat berharga untuk keberhasilan Anda. Jika Itu Benar-benar Penting, Kenapa Nunggu Besok? Jika ada sebuah tindakan sangat penting yang akan mengubah hidup Anda menjadi lebih baik. Maka lakukan sekarang, jangan ditunda-tunda.
Akan tetapi bener kok, saya tidak bisa melakukannya sekarang. Saya banyak kesibukan yang lain. Itu artinya, Anda menganggp pekerjaan ini tidak penting sehingga harus dilakukan besok. Itu adalah keputusan Anda. Serius, Anda menganggap tidak penting. Jika menurut Anda bisa dilakukan besok, artinya itu tidak penting. Itu saja!
3. SAYA BELUM NYAMAN
Orang-orang yang sukses adalah karena mereka mau melakukan sesuatu yang tidak nyaman. Jika tidak, mereka akan terus berada di zona nyaman. Saat anda mengatakan belum nyaman, tidak sreg, belum terbuka hati, dan kata-kata sejenisnya, artinya Anda masih betah di zona nyaman.
Saat Anda hanya betah melakukan pekerjaan yang bisa dan biasa saja, anda tidak mengalami kemajuan yang berarti. Sekali anda mengubah, bahkan tidak nyaman sama sekali, maka kemajuan anda dapatkan. Cobalah berpikir untuk melakukan hal baru, selama itu untuk kemajuan Anda, meski pun itu tidak nyaman.
Sesuatu yang baru atau pertama kali dilakukan adalah tidak nyaman. Pada awalnya, berbicara di depan umum itu tidak nyaman. Gemetaran dan dag dig dug. Namun anda harus melakukan untuk kemajuan anda. Anda harus paksakan meski pun tidak nyaman. Rasa tidak nyaman hanya ada di awal, selanjutnya akan biasa.
Menjual juga sama, sangat tidak nyaman. Namun jika sudah biasa, menjadi nyaman-nyaman saja. Jadi jangan menunggu nyaman, Anda akan nyaman jika MAU melalui ketidaknyamanan itu.
4. SAYA MASIH BINGUNG
Ini juga yang sering kita dengar dan baca: Pak, sebenarnya saya mau bisnis tapi masih bingung apa yang harus saya lakukan. Saat memasuki dunia yang baru, bisnis yang baru, termasuk pekerjaan yang baru, pada awalnya semua orang pasti bingung.
Begitu juga saat bekerja, pada awalnya bingung. Saat Anda datang ke kantor pertama kali, kita tidak tahu apa yang akan dilakukan nanti di kantor. Kemudian atasan atau penyelia kita akan membimbing kita, dan kita akhirnya mengetahui apa yang akan kita ketahui. Bagaimana dengan bisnis? Sama saja.
Mungkin akan bingung di awal, namun mulailah berjalan, Anda pun akan menemukan jalan. Ilustrasi yang bagus adalah lampu mobil yang hanya bisa menerangi jalan beberapa meter saja, namun setelah berjalan bisa menerangi seluruh jalan, sampai ratusan kilometer sekali pun.
5. SAYA TAKUT KECEWA
Jika Anda takut kecewa kemudian Anda tidak melakukan apa-apa, sebenarnya Anda sedang menanti kekecewaan yang lebih besar lagi dimasa mendatang. Saat Anda bertindak, mungkin berhasil, mungkin juga tidak. Namun jika Anda tidak bertindak, Anda pasti gagal.
Saat Anda tidak bertindak, sebenarnya Anda SUDAH gagal. Lalu kenapa tidak kecewa? Karena Anda tidak menyikapinya sebagai kegagalan. Padahal, jelas-jelas kegagalan. Artinya, kecewa atau tidak kecewa itu bukan karena gagal atau tidak gagal, tetapi bagaimana Anda menyikapinya. Padahal, jika kita kaji lebih jauh, justru kegagalan sebenarnya saat Anda menyerah, tidak bertindak. Saat Anda mencoba, Anda sebenarnya tidak akan pernah gagal.
6. SUDAH TERLAMBAT
Tidak ada kata terlambat. Allah masih memberikan umur kepada kita. Allah masih memberikan kesempatan kepada kita. Kenapa kita berani-beraninya mengatakan sudah terlambat? Terlambat itu saat ajal menjemput namun kita belum bertaubat. Untuk bisnis, untuk karir, dan untuk pengembangan diri, tidak ada kata terlambat. Jika kita mengatakan sudah terlambat, karena kita berpikir sempit. Bukalah mata, harapan itu masih ada.
7. SAYA SUDAH MELAKUKAN YANG TERBAIK
Kata siapa sudah terbaik? Kata Anda sendiri? Belum, kalau Anda mau belajar lagi metode-metode yang lebih baik. Kalau Anda mau berlatih sehingga keterampilan Anda meningkat. Maka Anda bisa melakukan yang lebih baik lagi.
Anda harus memberikan peluang pada diri Anda, bahwa Anda masih bisa melakukan yang lebih baik. Tahukah Anda, para juara dunia itu, apa pun bidangnya, mereka selalu berlatih untuk meningkatkan kemampuan? Sungguh aneh, anda juara dunia saja bukan tetapi mengatakan sudah melakukan yang terbaik. Anda bisa mencapai penghasilan revolusioner jika Anda mau membuka diri, yaitu membuang anggapan bahwa Anda sudah melakukan yang terbaik.
KESIMPULAN: Buang semua kalimat yang menghambat kemajuan diri Anda, SEKARANG!

Gigi Berdarah Saat Sikat Gigi Padahal Tidak Sakit, Mengapa?

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum wrwb.
Pak Dokter, saat sikat gigi sering kali saya menemukan darah. Padahal gigi saya tidak sakit. Jadi sepertinya gigi saya berdarah jika sikat gigi. Mengapa hal ini bisa terjadi?
Terima kasih atas penjelasan dari drg. Nuh Ibnu Adrian.
Wassalaamu’alaikum wrwb
Aang – Bekasi
Jawaban:
Wa’alaikumsalam wrwb

Pak Aang, gigi berdarah saat sikat gigi sebenarnya itu tanda awal dari peradangan gusi. Radang gusi adalah gusi yang mengalami proses infeksi karena adanya bakteri sisa – sisa makanan yang menempel di gigi.
Bakteri yang telah menempel tersebut disebut karang gigi. Solusinya adalah dengan ‘scalling’. Proses scalling adalah pembersihan karang gigi yang dilakukan oleh dokter gigi.
Setelah karang gigi dibersihkan maka harus tetap rajin sikat gigi. 2 kali sehari. Pagi dan malam menjelang tidur.
Demikian Pak Aang. Semoga cepat sembuh dan segera periksakan gigi Anda ke dokter gigi sebelum karang giginya semakin tebal.
Wassalaamu’alaikum wrwb
drg. Nuh Ibnu Adrian, MARS

Hukum Menerima Pemberian dari Harta Haram

Pertanyaan:
Apakah boleh menerima uang pinjaman (tanpa bunga) atau pemberian/hibah dari teman untuk modal usaha kita, sementara uang tersebut dia peroleh dari pinjaman bank?
Jawaban:
Harta haram terbagi dua[1]:
Pertama, haram pada dzat dan asalnya. Yaitu, harta yang memang asalnya adalah haram, seperti anjing, babi, atau berkaitan dengan kepemilikan orang lain, seperti barang curian dan hasil rampokan.
Pada harta seperti ini, para ulama bersepakat bahwa tidak boleh diterima berdasarkan keharaman dalam dzat harta tersebut dan karena keberkaitan dengan kepemilikan orang lain. Kesepakatan ulama tentang ketidakbolehan ini telah dinukil oleh Ibnu Abdil Barr dan selainnya[2].
Kedua, haram karena sifatnya atau sebab dalam mendapatkannya. Yaitu, harta yang didapatkan dengan cara haram, seperti hasil riba atau hasil judi.
Pada harta yang seperti ini, terdapat silang pendapat di kalangan ulama. Yang benar adalah boleh diambil, tetapi dengan mengingat bahwa sebagian ulama menganggap bahwa harta yang lebih didominasi oleh hal haram adalah lebih wara’ untuk ditinggalkan.
Ibnu Mas’ûd radhiyallâhu ‘anhu ditanya tentang seseorang yang memiliki tetangga yang memakan riba secara terang-terangan, tetapi tidak merasa bersalah dengan harta yang buruk, lalu si tetangga itu mengajaknya dalam undangan makan. Ibnu Mas’ûd radhiyallâhu ‘anhu pun menjawab, “Penuhilah undangannya. Kenikmatan (makanan) adalah untuk kalian, tetapi dosanya adalah terhadap dia.” Dalam sebuah riwayat, si penanya berkata, “Saya tidak mengetahui sesuatu apapun yang menjadi miliknya, kecuali hal yang buruk atau hal yang haram,” tetapi Ibnu Mas’ûd tetap menjawab, “Penuhilah undangannya.”[3]
Imam Az-Zuhry dan Imam Makhûl berkata, “Tidaklah mengapa makan berupa (harta haram) selama tidak diketahui keharaman pada dzatnya.” Yang semisal dengan itu diriwayatkan pula dari Al-Fudhail bin ‘Iyâdh.[4]
Dalam hadits Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, terdapat beberapa hadits yang menjelaskan bahwa beliau memakan berupa makanan orang-orang Yahudi dan bertansaksi dengan mereka, padahal orang-orang Yahudi telah diketahui, dalam uraian Al-Qur`an, bahwa mereka memakan riba dan harta haram. Di antara hadits-hadits tersebut adalah,
1. Hadits Anas bin Malik radhiyallâhu ‘anhu. Beliau bertutur,
أَنَّ يَهُودِيَّةً أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشَاةٍ مَسْمُومَةٍ، فَأَكَلَ مِنْهَا…
“Sesungguhnya seorang perempuan Yahudi mendatangkan (daging) kambing, yang telah diracuni, kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau memakan (daging) itu ….” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim]
2. Hadits Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ. Beliau berkata,
تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَدِرْعُهُ مَرْهُونَةٌ عِنْدَ يَهُودِيٍّ، بِثَلاَثِينَ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ
“Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam meninggal, sementara baji besi beliau tergadai di sisi seorang Yahudi dengan harga tiga puluh shâ’ jelay.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim]

Berikut beberapa fatwa dari ulama kita seputar masalah yang ditanyakan. Di antaranya:
Syaikh Ibnu Bâz rahimahullâh, ditanya,
“Apakah Saya boleh meminjam (sesuatu) dari seorang yang perdagangannya dikenal dengan hal yang haram dan dia mengambil hal yang haram?”
Beliau menjawab,
“Engkau –wahai saudaraku- tidak pantas meminjam dari orang ini atau bermuamalah dengannya sepanjang (seluruh) muamalahnya adalah hal yang haram dan dikenal dengan muamalah riba yang diharamkan, atau selainnya. Maka, engkau tidak boleh bermuamalah dengannya tidak pula meminjam darinya, tetapi engkau wajib berbersih dan menjauh dari hal tersebut. namun, kalau dia bermu’amalah dengan hal yang haram, (tetapi) juga dengan hal yang selain haram, yakni bahwa muamalahnya ada terlihat yang baik, tetapi ada pula yang buruk, tidaklah mengapa (engkau bermuamalah), tetapi meninggalkan hal itu adalah lebih afdhal berdasarkan sabda (Rasulullah) shallallâhu ‘alaihi wa sallam,
دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ
“Tinggalkanlah segala sesuatu yang meragukanmu (menuju) kepada hal-hal yang tidak meragukanmu,”[5]
Juga berdasarkan sabda beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam,
مَنِ اتَّقَى الشُّبْهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ
“Barangsiapa yang menjaga dirinya terhadap syubhat, sungguh dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya,”[6]
Juga berdasarkan sabda beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam,
الْإِثْمُ مَا حَاك فِي نَفْسِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ
“Dosa adalah apa-apa yang bergejolak dalam dirimu, sedang engkau benci bila manusia mengetahuinya.”[7]
Jadi, seorang mukmin menjauhi hal-hal syubhat.
Apabila engkau mengetahui bahwa seluruh muamalahnya adalah haram atau dia berdagang dalam hal yang diharamkan, yang seperti ini tidak dilakukan muamalah dengannya, tidak pula boleh diambil pinjaman darinya.”
[Fatâwâ Islâmiyah 2/416]

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullâh ditanya,
“Seorang lelaki mengetahui bahwa sumber harta-harta ayahnya adalah berasal dari hal yang haram. Apakah dia boleh makan dari makanan ayahnya? Jika dia tidak makan dari makanan ayahnya, apakah hal tersebut merupakan kedurhakaan?”
Beliau menjawab,
“Orang yang mengetahui bahwa harta ayahnya adalah berasal dari hal yang haram, apabila (harta itu) haram pada dzatnya, yakni dia mengetahui bahwa ayahnya mencuri harta ini dari seseorang, dia tidak boleh memakan (harta) tersebut. Andaikata engkau mengetahui bahwa ayahmu mencuri dan menyembelih kambing ini,  janganlah engkau memakan (kambing) tersebut dan janganlah engkau mematuhi undangannya. Adapun apabila (harta itu) adalah haram karena cara menghasilkannya, yakni dia melakukan riba, muamalah dengan menipu oleh (ayahmu), dalil untuk hal ini adalah bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam makan dari harta orang-orang Yahudi, padahal mereka dikenal mengambil riba dan memakan yang haram. (Juga bahwa) seorang perempuan Yahudi di Khaibar telah menghadiahkan (daging) kambing beracun kepada beliau agar beliau mati, tetapi Allah menjaga beliau hingga waktu yang telah ditentukan. (Juga bahwa) seorang Yahudi telah mengundang beliau untuk (memakan) roti dari jelay dan minyak yang baunya sudah berubah maka beliau memenuhi undangan dan memakan (roti) itu.
Beliau juga telah membeli makanan untuk keluarganya dari seorang Yahudi. Beliau dan keluarganya memakan (makanan) tersebut. Hendaknya (si penanya tetap) makan, dan dosa (ditanggung) oleh ayahnya.
[Liqâ Al-Bâb Al-Maftûh no. 188]

Syaikh Muqbil rahimahullâh ditanya,
“Apakah (boleh) menerima hadiah dari orang yang bekerja dalam hal yang haram, atau menyumbang untuk pembangunan masjid atau untuk amalan-amalan kebaikan lainnya?”
Beliau menjawab,
“Sikap wara (berhati-hati) dalam hal tersebut adalah tidak diterima, walaupun sebenarnya dosa (ditanggung) oleh pelakunya secara langsung sebagaimana yang telah berlalu. Kami mengatakan bahwa dosa (ditanggung) oleh pelakunya secara langsung karena Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bermuamalah bersama orang-orang Yahudi, padahal mereka bermuamalah secara riba. Kadang mereka mengundang Nabi n lalu beliau memenuhi undangan mereka, padahal mereka bermuamalah secara riba.”
[Tuhfatul Mujîb hal. 57-58]

Syaikh Muhammad Nâshiruddîn Al-Albâny rahimahullâh ditanya,
“Seseorang menghadiahkan -misalnya makanan- kepada kami, padahal orang itu bekerja dengan pekerjaan yang halal dan haram. Apakah (Kami) boleh makan dari hadiah ini? Jika ke rumahnya, apakah (Kami) boleh memakan makanannya, sedang orang itu diharapkan kebaikannya?
Beliau menjawab,
Pertama, yang menjadi ukuran adalah pekerjaan halal atau haram yang mendominasi pada orang ini. Maka, yang dominan tersebut akan menjadi hukumnya. Jika yang mendominasi adalah yang halal, (harta)nya adalah halal, tetapi bila yang mendominasi adalah yang haram, (harta)nya adalah haram.
Kedua, anggaplah harta itu haram, seperti (harta) pimpinan bank atau pegawai lain yang tidak berpenghasilan lain, kecuali harta yang haram ini. Pertanyaan kami arahkan kepada orang seperti ini (si penanya). Jawabannya adalah bahwa siapa saja yang memakan dari makanan (orang tersebut) atau menerima hadiah (orang tersebut), hal itu dilihat kepada niatnya, (yaitu) niat orang yang memakan dan menerima hadiah. Apabila dia tidak menghendaki (apa-apa), kecuali bagian dunia dan hasil keduniaan, hal ini tidak diperbolehkan. (Namun), Apabila yang dia kehendaki adalah sebagai perantara dan wasilah untuk menyampaikan nasihat agar orang tersebut memperbaiki pekerjaannya, hal tersebut adalah perkarah yang diperbolehkan karena (adanya) maslahat yang hendak dicapai. Kita mengetahui bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam memakan dari makanan kaum musyrikin selama tidak ada hal yang haram secara syara`. (Juga) beliau memakan dari makanan Ahlul Kitab. Kisah perempuan Yahudi yang menyuguhkan lengan kambing untuk Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, padahal (perempuan) itu telah menyelipkan racun pada (kambing) itu (juga) merupakan (kisah) yang dimaklumi. Kisah tersebut shahih. Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidak membersihkan dirinya dari memakan makanan perempuan Yahudi ini. Kalau demikian, apabila seorang muslim makan dari makanan orang yang berpenghasilan haram, dan yang dikehendaki (oleh muslim tersebut) bukanlah harta, tetapi pendekatan kepada orang ini, itu bertujuan mendekatkannya kepada amar ma’ruf dan nahi mungkar.
[Silsilah Al-Hudâ Wan Nur, kaset no. 428]


[1] Ahkâm Al-Mal Al-Haram hal. 40-43 karya Dr. ‘Abbâs Al-Bâz, Mausû’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah pada pembahasan “Kasb” dan pembahasan “Mâl”, serta Majmû’ Fatâwâ Wa Rasâ`il Ibnu ‘Utsaimin 10/937-938.
[2] Sebagaimana yang tersebut dalam Jâmi’ Al-‘Ulûm wa Al-Hikâm hal. 138 karya Ibnu Rajab Al-Hanbaly rahimahullâh.
[3] Jâmi’ Al-‘Ulûm wa Al-Hikâm hal. 138.
[4] Jâmi’ Al-‘Ulûm wa Al-Hikâm hal. 137.
[5] Dikeluarkan oleh Ahmad, At-Tirmidy, An-Nasâ`iy, Al-Hâkim, dan selainnya dari Al-Hasan bin Ali hafizhahullâh.
[6] Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari An-Nu’mân bin Al-Basyîr radhiyallâhu ‘anhu.
[7] Diriwayatkan oleh Muslim dari An-Nawwas bin As-Sim’ân radhiyallâhu ‘anhu.
http://dzulqarnain.net/hukum-menerima-pemberian-dari-harta-haram.html