1. Ajarilah anak untuk mencintai dan menyayangi dirinya sendiri.
Caranya : Perhatikan diri Anda sendiri terlebih dahulu. Selalu sediakan
waktu bagi diri Anda pribadi di tengah kesibukan harian Anda. Sediakan
waktu bagi Anda untuk berolahraga, merawat diri, dan meluangkan waktu
bagi pengembangan pribadi Anda. Sadarkah Anda bahwa orangtua yang tidak
menghargai dirinya sendiri akan membesarkan anak dengan sifat serupa!
2. Luangkan waktu yang berkualitas setiap hari.
Tunjukkan betapa Anda sungguh bergembira atas kehadirannya. Jadilah
‘Ahli Gembira’ bagi putra-putri Anda. Ubahlah waktu mengerjakan tugas
harian menjadi momen yang berharga dan istimewa. Bernyanyi, memeluk,
berbagi tawa dan cerita dapat membuat saat-saat biasa menjadi tak
terlupakan.
3. Jadilah pendengar yang baik.
Hal ini bukanlah hal yang mudah bagi orangtua. Betapa sering orangtua
menyela dan sibuk dengan nasehat-nasehat bahkan pada saat anak belum
selesai berbicara? Simpanlah kekuatiran-kekuatiran Anda pada saat
mendengarkan. Cobalah untuk mendengarkan anak Anda sepenuhnya tanpa
menghakimi. Anda perlu menahan diri untuk tidak memikirkan atau
memberikan pendapat Anda sendiri. Dengarkan mereka dengan hati yang
terbuka dan penyayang. Lupakanlah diri Anda dan tempatkanlah diri Anda
pada sudut pandang anak Anda. Ajukan pertanyaan-pertanyaan sebagai ganti
dari memberikan pendapat. Cara orangtua mendengarkan tanpa menghakimi
akan membuat anak merasa diterima dan dimengerti.
4. Seringlah tertawa, sebab kegembiraan itu menular!
Anggaplah pada saat ini diri Anda terpilih untuk melakukan tantangan ’30
hari tersenyum bersama keluarga’ ! Anda akan menyaksikan keajaiban dari
kegembiraan dan kasih sayang yang Anda bawa kepada orang-orang di
sekitar Anda. Buatlah momen sehari-hari menjadi luar biasa berkat
kegembiraan dan semangat yang Anda bawa ke dalamnya.
5. Berilah pengakuan dan penghargaan.
Latihlah mulai dari diri Anda sendiri untuk memberikan penghargaan
terhadap setiap keberhasilan, bahkan yang paling kecil sekalipun, yang
telah Anda lakukan hari ini. Ajarlah diri Anda untuk memberikan
penghargaan yang tulus atas tugas-tugas sederhana yang Anda berhasil
Anda selesaikan. Penghargaan ini akan memberi semangat baru dalam hidup
Anda untuk menjalankan tugas yang lebih besar.
Luangkanlah waktu 5 menit bagi diri Anda setiap harinya untuk
memikirkan dan menuliskan kesuksesan-kesuksesan yang telah Anda raih
hari ini. Rasakanlah bagaimana hidup Anda berubah, nikmatilah semangat
baru yang mengisi setiap kegiatan Anda. Bagikanlah penghargaan ini juga
kepada anak-anak Anda. Berikanlah pujian, pengakuan dan penghargaan
yang tulus kepada mereka. Ingat, penghargaan yang baik menekankan pada
tindakan, bukan pada prestasi yang dicapai.
6. Disiplinkan anak dengan hormat.
Ajarkanlah anak turut bertanggung jawab atas tugas-tugas rutin dalam
rumah tangga. Anak yang secara aktif turut dilibatkan dalam tugas rutin
dalam rumah tangga pada masa dewasanya akan memiliki rasa tanggung jawab
yang lebih besar.
Perbaiki kesalahan mereka dengan kelembutan namun Anda harus
terus-menerus konsisten. Berikan konsekuensi yang wajar dari pelanggaran
dengan tujuan untuk mengajarkan tanggung jawab. Janganlah memarahi
apalagi mempermalukan anak di depan orang lain atas kesalahan yang
mereka perbuat.
Ajaklah mereka ke tempat sepi untuk berbicara hanya empat mata dengan
Anda. Berikan pengertian sejelas-jelasnya mengapa tindakannya salah.
Mintalah anak meminta maaf bila ia berbuat salah. Anda pun perlu meminta
maaf kepada anak di saat-saat Anda bersalah atau melalaikan janji Anda
kepada mereka. Disiplinkanlah anak tanpa menunjukkan kuasa dan kemarahan
Anda, maka anak akan belajar tumbuh dengan pengendalian diri yang
tinggi. Sampaikan pesan kepada mereka bahwa meskipun perilaku mereka
masih perlu ditingkatkan, namun Anda sebagai orangtua tetap menyayangi
dan menyukai mereka.
7. Berilah ruang bagi putra-putri Anda untuk melakukan kesalahan.
Ingatlah, bahwa setiap orang, apalagi seorang anak, berhak untuk
melakukan kesalahan. Kesalahan merupakan bagian dari proses
pembelajaran. Temukanlah kebaikan dalam kesalahan-kesalahan yang mereka
lakukan, maka anak Anda akan belajar untuk berani berjuang menghadapi
tantangan dan resiko.
8. Tanamkan nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan semangat saling membantu.
Tunjukkanlah dalam keseharian Anda bagaimana Anda selalu konsisten
dengan nilai-nilai ini. Libatkan juga putra-putri Anda dalam kegiatan
sosial yang secara rutin Anda lakukan. Putra-putri Anda pun akan tumbuh
dengan karakter positif yang kuat dalam diri mereka.
9. Fokuskanlah perhatian Anda pada hal-hal yang berjalan benar.
Milikilah keyakinan yang meneguhkan keluarga Anda di saat-saat sulit.
Anak-anak Anda akan belajar menjadi pribadi yang optimis dan bersyukur
setiap hari. Latihlah sikap positif dengan menemukan hal-hal positif
dalam setiap hari Anda dan bersyukurlah atasnya selalu.
Cintailah anak Anda dengan tulus tanpa syarat, dan ungkapkanlah
besarnya kasih sayang Anda tersebut kepada mereka. Anak yang berada
dalam kasih sayang yang tulus akan tumbuh dengan lebih bergembira,
percaya diri, menyenangkan, serta dapat diandalkan.
Friday, 13 July 2012
Cara serta Tips mendidik anak dalam keluarga
Orang tua mana yang tidak ingin anaknya sukses secara akademik di
sekolah, kita sebagai orang tua akan merasa bangga jika anak kesayangan
kita bisa ranking satu di kelasnya, sampai-sampai kita lupa akan
keterbatasan kemampuan anak dan memaksa si anak untuk belajar setiap
hari, menekan dan bahkan memarahi kalau anak kita mendapatkan nilai yang
buruk, beberapa orang tua melakukan ini karena terlibat persaingan
antar sesama orang tua akan keberhasilan mereka dalam mendidik anaknya
untuk meraih rangking pertama di sekolah.
Jika kita melihat kenyataan yang ada, tidak sedikit orang-orang besar dunia yang justru memiliki catatan prestasi akademik yang pas-pasan bahkan bisa dibilang buruk namun mereka sukses di bidangnya, Ternyata prestasi akademik tidak menjamin kesuksesan seorang anak dimasa depan meskipun tidak jarang juga prestasi akademik mendukung karir anak tersebut.
Ajari anak dengan keteladanan
Kompaklah dalam medidik anak
Sediakan waktu yang cukup bersama anak
Perlakukan anak secara postif
Jika kita melihat kenyataan yang ada, tidak sedikit orang-orang besar dunia yang justru memiliki catatan prestasi akademik yang pas-pasan bahkan bisa dibilang buruk namun mereka sukses di bidangnya, Ternyata prestasi akademik tidak menjamin kesuksesan seorang anak dimasa depan meskipun tidak jarang juga prestasi akademik mendukung karir anak tersebut.
Kita semua mengetahui bahwa bukan IQ saja yang bisa dijadikan dasar
pendukung keberhasilan anak tapi ada kecerdasan lain yang juga tidak
kalah besar pengaruhnya terhadap prestasi seorang anak, ada kecerdasan
emosi (EQ: emotional quotient), kecerdasan sosial (social quotient) dan
yang baru-baru ini banyak di sebut-sebut orang yaitu kecerdasan spritual
(spiritual quotient).
Bagaimana cara mendidik anak dalam keluarga
Jangan membanding-bandingkan anak
Setiap anak memiliki karakter yang berbeda-beda, mempunyai kelebihan dan
kekurang masing-masing, ada anak yang kurang dalam hitungan tetapi
memiliki kelebihan dalam bahasa, tidak bisa kita membandingkan dengan
saudaranya yang memiliki prestasi baik dalam matematika tetapi buruk
dalam kesenian.
Ajari anak dengan keteladanan
Kita tidak bisa memaksa anak untuk mengosok gigi setiap menjelang tidur
kalau kita sendiri sebagai orang tuanya tidak pernah melakukan hal itu,
ajaklah anak untuk melakukan shalat lima waktu dengan memberi contoh
melaksanakan shalat, begitupun dengan kejujuran dan akhlak yang baik.
Kompaklah dalam medidik anak
Jika si Ibu menyuruh anaknya untuk belajar, maka si Ayah jangan
membiarkan anaknya untuk terus-menerus bermain game. Ayah dan ibu harus
memiliki visi dan misi yang sama dalam mendidik anak.
Sediakan waktu yang cukup bersama anak
Jangan berikan waktu sisa untuk anak, luangkan waktu untuk menjalin
kebersamaan bersama anak karena sudah menjadi hak anak untuk meminta
waktu dari orang tuanya, jangan biarkan anak untuk lebih memilih
lingkungan lain di luar keluarga dalam mengemukakan unek-uneknya karena
bukan tidak mungkin malah mendapatkan saran-saran negatif dari
lingkungan pergaulannya.
Perlakukan anak secara postif
Jangan pernah mengatakan sesuatu yang negatif terhadap anak kita misalnya : "dasar bodoh begini aja nggak bisa...!"
perkataan orang tua adalah doa, berusahalah untuk menghargai anak
secara positif, puji dan beri penghargaan terhadap anak apabila anak
kita melakukan hal-hal yang baik karena hal ini akan menimbulkan dampak
positif bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.
Anak adalah anugerah dan titipan bukan beban, perlakukan anak sebagai
individu yang memiliki hak yang sama seperti orang dewasa lainnya,
jangan paksakan anak untuk menjadi sesuatu yang diinginkan orang tuanya,
jangan menekan anak untuk selalu mendapatkan nilai akademik yang hebat
dalam matematika padahal sebenarnya anak kita mempunyai kemampuan lebih
dalam seni musik dan bahasa. Sudah menjadi kewajiban orang tua untuk
menggali dan mengoptimalkan kemampuan anak sesuai dengan bakat dan minat
yang dimiliki anak.
Beberapa Kesalahan Dalam Mendidik Anak
1. Kurang Pengawasan
Menurut Professor Robert Billingham, Human Development and Family Studies – Universitas Indiana, “Anak terlalu banyak bergaul dengan lingkungan semu diluar keluarga, dan itu adalah tragedi yang seharusnya diperhatikan oleh orang tua”. Nah sekarang tahu kan, bagaimana menyiasatinya, misalnya bila anak Anda berada di penitipan atau sekolah, usahakan mengunjunginya secara berkala dan tidak terencana. Bila pengawasan Anda jadi berkurang, solusinya carilah tempat penitipan lainnya. Jangan biarkan anak Anda berkelana sendirian. Anak Anda butuh perhatian.
2. Gagal Mendengarkan
Menurut psikolog Charles Fay, Ph.D. “Banyak orang tua terlalu lelah memberikan perhatian – cenderung mengabaikan apa yang anak mereka ungkapkan”, contohnya Aisyah pulang dengan mata yang lembam, umumnya orang tua lantas langsung menanggapi hal tersebut secara berlebihan, menduga-duga si anak terkena bola, atau berkelahi dengan temannya. Faktanya, orang tua tidak tahu apa yang terjadi hingga anak sendirilah yang menceritakannya.
3. Jarang Bertemu Muka
Menurut Billingham, orang tua seharusnya membiarkan anak melakukan kesalahan, biarkan anak belajar dari kesalahan agar tidak terulang kesalahan yang sama. Bantulah anak untuk mengatasi masalahnya sendiri, tetapi jangan mengambil keuntungan demi kepentingan Anda.
4. Terlalu Berlebihan
Menurut Judy Haire, “banyak orang tua menghabiskan 100 km per jam mengeringkan rambut, dari pada meluangkan 1 jam bersama anak mereka”. Anak perlu waktu sendiri untuk merasakan kebosanan, sebab hal itu akan memacu anak memunculkan kreatifitas tumbuh.
5. Bertengkar Dihadapan Anak
Menurut psikiater Sara B. Miller, Ph.D., perilaku yang paling berpengaruh merusak adalah “bertengkar” dihadapan anak. Saat orang tua bertengkar didepan anak mereka, khususnya anak lelaki, maka hasilnya adalah seorang calon pria dewasa yang tidak sensitif yang tidak dapat berhubungan dengan wanita secara sehat. Orang tua seharusnya menghangatkan diskusi diantara mereka, tanpa anak-anak disekitar mereka. Wajar saja bila orang tua berbeda pendapat tetapi usahakan tanpa amarah. Jangan ciptakan perasaan tidak aman dan ketakutan pada anak.
6. Tidak Konsisten
Anak perlu merasa bahwa orang tua mereka berperan. Jangan biarkan mereka memohon dan merengek menjadi senjata yang ampuh untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Orang tua harus tegas dan berwibawa dihadapan anak.
7. Mengabaikan Kata Hati
Menurut Lisa Balch, ibu dua orang anak, “lakukan saja sesuai dengan kata hatimu dan biarkan mengalir tanpa mengabaikan juga suara-suara disekitarnya yang melemahkan. Saya banyak belajar bahwa orang tua seharusnya mempunyai kepekaan yang tajam tentang sesuatu”.
8. Terlalu Banyak Nonton TV
Menurut Neilsen Media Research, anak-anak Amerika yang berusia 2-11 tahun menonton 3 jam dan 22 menit siaran TV sehari. Menonton televisi akan membuat anak malas belajar. Orang tua cenderung membiarkan anak berlama-lama didepan TV dibanding mengganggu aktifitas orang tua. Orang tua sangat tidak mungkin dapat memfilter masuknya iklan negatif yang tidak mendidik.
9. Segalanya Diukur Dengan Materi
Menurut Louis Hodgson, ibu 4 anak dan nenek 6 cucu, “anak sekarang mempunyai banyak benda untuk dikoleksi”. Tidaklah salah memanjakan anak dengan mainan dan liburan yang mewah. Tetapi yang seharusnya disadari adalah anak Anda membutuhkan quality time bersama orang tua mereka. Mereka cenderung ingin didengarkan dibandingkan diberi sesuatu dan diam.
10. Bersikap Berat Sebelah
Beberapa orang tua kadang lebih mendukung anak dan bersikap memihak anak sambil menjelekkan pasangannya didepan anak. Mereka akan hilang persepsi dan cenderung terpola untuk bersikap berat sebelah. Luangkan waktu bersama anak minimal 10 menit disela kesibukan Anda. Dan pastikan anak tahu saat bersama orang tua adalah waktu yang tidak dapat diinterupsi.
Menurut Professor Robert Billingham, Human Development and Family Studies – Universitas Indiana, “Anak terlalu banyak bergaul dengan lingkungan semu diluar keluarga, dan itu adalah tragedi yang seharusnya diperhatikan oleh orang tua”. Nah sekarang tahu kan, bagaimana menyiasatinya, misalnya bila anak Anda berada di penitipan atau sekolah, usahakan mengunjunginya secara berkala dan tidak terencana. Bila pengawasan Anda jadi berkurang, solusinya carilah tempat penitipan lainnya. Jangan biarkan anak Anda berkelana sendirian. Anak Anda butuh perhatian.
2. Gagal Mendengarkan
Menurut psikolog Charles Fay, Ph.D. “Banyak orang tua terlalu lelah memberikan perhatian – cenderung mengabaikan apa yang anak mereka ungkapkan”, contohnya Aisyah pulang dengan mata yang lembam, umumnya orang tua lantas langsung menanggapi hal tersebut secara berlebihan, menduga-duga si anak terkena bola, atau berkelahi dengan temannya. Faktanya, orang tua tidak tahu apa yang terjadi hingga anak sendirilah yang menceritakannya.
3. Jarang Bertemu Muka
Menurut Billingham, orang tua seharusnya membiarkan anak melakukan kesalahan, biarkan anak belajar dari kesalahan agar tidak terulang kesalahan yang sama. Bantulah anak untuk mengatasi masalahnya sendiri, tetapi jangan mengambil keuntungan demi kepentingan Anda.
4. Terlalu Berlebihan
Menurut Judy Haire, “banyak orang tua menghabiskan 100 km per jam mengeringkan rambut, dari pada meluangkan 1 jam bersama anak mereka”. Anak perlu waktu sendiri untuk merasakan kebosanan, sebab hal itu akan memacu anak memunculkan kreatifitas tumbuh.
5. Bertengkar Dihadapan Anak
Menurut psikiater Sara B. Miller, Ph.D., perilaku yang paling berpengaruh merusak adalah “bertengkar” dihadapan anak. Saat orang tua bertengkar didepan anak mereka, khususnya anak lelaki, maka hasilnya adalah seorang calon pria dewasa yang tidak sensitif yang tidak dapat berhubungan dengan wanita secara sehat. Orang tua seharusnya menghangatkan diskusi diantara mereka, tanpa anak-anak disekitar mereka. Wajar saja bila orang tua berbeda pendapat tetapi usahakan tanpa amarah. Jangan ciptakan perasaan tidak aman dan ketakutan pada anak.
6. Tidak Konsisten
Anak perlu merasa bahwa orang tua mereka berperan. Jangan biarkan mereka memohon dan merengek menjadi senjata yang ampuh untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Orang tua harus tegas dan berwibawa dihadapan anak.
7. Mengabaikan Kata Hati
Menurut Lisa Balch, ibu dua orang anak, “lakukan saja sesuai dengan kata hatimu dan biarkan mengalir tanpa mengabaikan juga suara-suara disekitarnya yang melemahkan. Saya banyak belajar bahwa orang tua seharusnya mempunyai kepekaan yang tajam tentang sesuatu”.
8. Terlalu Banyak Nonton TV
Menurut Neilsen Media Research, anak-anak Amerika yang berusia 2-11 tahun menonton 3 jam dan 22 menit siaran TV sehari. Menonton televisi akan membuat anak malas belajar. Orang tua cenderung membiarkan anak berlama-lama didepan TV dibanding mengganggu aktifitas orang tua. Orang tua sangat tidak mungkin dapat memfilter masuknya iklan negatif yang tidak mendidik.
9. Segalanya Diukur Dengan Materi
Menurut Louis Hodgson, ibu 4 anak dan nenek 6 cucu, “anak sekarang mempunyai banyak benda untuk dikoleksi”. Tidaklah salah memanjakan anak dengan mainan dan liburan yang mewah. Tetapi yang seharusnya disadari adalah anak Anda membutuhkan quality time bersama orang tua mereka. Mereka cenderung ingin didengarkan dibandingkan diberi sesuatu dan diam.
10. Bersikap Berat Sebelah
Beberapa orang tua kadang lebih mendukung anak dan bersikap memihak anak sambil menjelekkan pasangannya didepan anak. Mereka akan hilang persepsi dan cenderung terpola untuk bersikap berat sebelah. Luangkan waktu bersama anak minimal 10 menit disela kesibukan Anda. Dan pastikan anak tahu saat bersama orang tua adalah waktu yang tidak dapat diinterupsi.
Wednesday, 11 July 2012
Rahasia Kekuatan Manusia Untuk Sukses
Manusia adalah makhluk ciptaan tuhan yang paling sempurna, dengan
kemampuan otaknya manusia mampu terbang bahkan pergi ke bulan, sesuatu
yang bahkan tidak pernah dibayangkan oleh manusia jaman dulu. tapi
tahukah kalau sebenarnya kita masih memiliki potensi lain yang jauh
lebih besar dari sekedar pergi ke bulan. manusia memiliki kekuatan lain
yang seringkali bahkan tidak kita sadari. kita lihat apa saja itu.
1. Kekuatan Impian (The Power of Dreams)
Untuk memperoleh hal-hal terbaik dalam kehidupan ini, setiap kita harus memiliki impian dan tujuan hidup yang jelas. Setiap kita harus berani memimpikan hal-hal terindah dan terbaik yang kita inginkan bagi kehidupan kita dan kehidupan orang-orang yang kita cintai. Tanpa impian, kehidupan kita akan berjalan tanpa arah dan akhirnya kita tidak menyadari dan tidak mampu mengendalikan ke mana sesungguhnya kehidupan kita akan menuju.
2. Kekuatan dari Fokus (The Power of Focus)
Fokus adalah daya (power) untuk melihat sesuatu (termasuk masa depan, impian, sasaran atau hal-hal lain seperti: kekuatan/strengths dan kelemahan/weakness dalam diri, peluang di sekitar kita, dan sebagainya) dengan lebih jelas dan mengambil langkah untuk mencapainya. Seperti sebuah kacamata yang membantu seorang untuk melihat lebih jelas, kekuatan fokus membantu kita melihat impian, sasaran, dan kekuatan kita dengan lebih jelas, sehingga kita tidak ragu-ragu dalam melangkah untuk mewujudkannya.
3. Kekuatan Disiplin Diri (The Power of Self Discipline)
Pengulangan adalah kekuatan yang dahsyat untuk mencapai keunggulan. Kita adalah apa yang kita lakukan berulang-ulang. Menurut filsuf Aristoteles, keunggulan adalah sebuah kebiasaan. Kebiasaan terbangun dari kedisiplinan diri yang secara konsisten dan terus-menerus melakukan sesuatu tindakan yang membawa pada puncak prestasi seseorang. Kebiasaan kita akan menentukan masa depan kita. Untuk membangun kebiasaan tersebut, diperlukan disiplin diri yang kokoh. Sedangkan kedisiplinan adalah bagaimana kita mengalahkan diri kita dan mengendalikannya untuk mencapai impian dan hal-hal terbaik dalam kehidupan ini.
4. Kekuatan Perjuangan (The Power of Survival)
Setiap manusia diberikan kekuatan untuk menghadapi kesulitan dan penderitaan. Justru melalui berbagai kesulitan itulah kita dibentuk menjadi ciptaan Tuhan yang tegar dalam menghadapi berbagai kesulitan dan kegagalan. Seringkali kita lupa untuk belajar bagaimana caranya menghadapi kegagalan dan kesulitan hidup, karena justru kegagalan itu sendiri merupakan unsur atau bahan (ingredient) yang utama dalam mencapai keberhasilan atau kehidupan yang berkelimpahan.
5. Kekuatan Pembelajaran (The Power of Learning)
Salah satu kekuatan manusia adalah kemampuannya untuk belajar. Dengan belajar kita dapat menghadapi dan menciptakan perubahan dalam kehidupan kita. Dengan belajar kita dapat bertumbuh hari demi hari menjadi manusia yang lebih baik. Belajar adalah proses seumur hidup. Sehingga dengan senantiasa belajar dalam kehidupan ini, kita dapat terus meningkatkan taraf kehidupan kita pada aras yang lebih tinggi.
6. Kekuatan Pikiran (The Power of Mind)
Pikiran adalah anugerah Tuhan yang paling besar dan paling terindah. Dengan memahami cara bekerja dan mengetahui bagaimana cara mendayagunakan kekuatan pikiran, kita dapat menciptakan hal-hal terbaik bagi kehidupan kita. Dengan melatih dan mengembangkan kekuatan pikiran, selain kecerdasan intelektual dan kecerdasan kreatif kita meningkat, juga secara bertahap kecerdasan emosional dan bahkan kecerdasan spiritual kita akan bertumbuh dan berkembang ke tataran yang lebih tinggi.
Semua dari kita berhak dan memiliki kekuatan untuk mencapai kehidupan yang berkelimpahan dan memperoleh hal-hal terbaik dalam kehidupannya. Semuanya ini adalah produk dari pilihan sadar kita, berdasarkan keyakinan kita, dan bukan dari produk kondisi keberadaan kita di masa lalu dan saat ini. Sebagaimana dikatakan oleh Jack Canfield dalam bukunya The Power of Focus, bahwa kehidupan tidak terjadi begitu saja kepada kita. Kehidupan adalah serangkaian pilihan dan bagaimana kita merespons setiap situasi yang terjadi pada kita.
Semoga bermanfaat …
1. Kekuatan Impian (The Power of Dreams)
Untuk memperoleh hal-hal terbaik dalam kehidupan ini, setiap kita harus memiliki impian dan tujuan hidup yang jelas. Setiap kita harus berani memimpikan hal-hal terindah dan terbaik yang kita inginkan bagi kehidupan kita dan kehidupan orang-orang yang kita cintai. Tanpa impian, kehidupan kita akan berjalan tanpa arah dan akhirnya kita tidak menyadari dan tidak mampu mengendalikan ke mana sesungguhnya kehidupan kita akan menuju.
2. Kekuatan dari Fokus (The Power of Focus)
Fokus adalah daya (power) untuk melihat sesuatu (termasuk masa depan, impian, sasaran atau hal-hal lain seperti: kekuatan/strengths dan kelemahan/weakness dalam diri, peluang di sekitar kita, dan sebagainya) dengan lebih jelas dan mengambil langkah untuk mencapainya. Seperti sebuah kacamata yang membantu seorang untuk melihat lebih jelas, kekuatan fokus membantu kita melihat impian, sasaran, dan kekuatan kita dengan lebih jelas, sehingga kita tidak ragu-ragu dalam melangkah untuk mewujudkannya.
3. Kekuatan Disiplin Diri (The Power of Self Discipline)
Pengulangan adalah kekuatan yang dahsyat untuk mencapai keunggulan. Kita adalah apa yang kita lakukan berulang-ulang. Menurut filsuf Aristoteles, keunggulan adalah sebuah kebiasaan. Kebiasaan terbangun dari kedisiplinan diri yang secara konsisten dan terus-menerus melakukan sesuatu tindakan yang membawa pada puncak prestasi seseorang. Kebiasaan kita akan menentukan masa depan kita. Untuk membangun kebiasaan tersebut, diperlukan disiplin diri yang kokoh. Sedangkan kedisiplinan adalah bagaimana kita mengalahkan diri kita dan mengendalikannya untuk mencapai impian dan hal-hal terbaik dalam kehidupan ini.
4. Kekuatan Perjuangan (The Power of Survival)
Setiap manusia diberikan kekuatan untuk menghadapi kesulitan dan penderitaan. Justru melalui berbagai kesulitan itulah kita dibentuk menjadi ciptaan Tuhan yang tegar dalam menghadapi berbagai kesulitan dan kegagalan. Seringkali kita lupa untuk belajar bagaimana caranya menghadapi kegagalan dan kesulitan hidup, karena justru kegagalan itu sendiri merupakan unsur atau bahan (ingredient) yang utama dalam mencapai keberhasilan atau kehidupan yang berkelimpahan.
5. Kekuatan Pembelajaran (The Power of Learning)
Salah satu kekuatan manusia adalah kemampuannya untuk belajar. Dengan belajar kita dapat menghadapi dan menciptakan perubahan dalam kehidupan kita. Dengan belajar kita dapat bertumbuh hari demi hari menjadi manusia yang lebih baik. Belajar adalah proses seumur hidup. Sehingga dengan senantiasa belajar dalam kehidupan ini, kita dapat terus meningkatkan taraf kehidupan kita pada aras yang lebih tinggi.
6. Kekuatan Pikiran (The Power of Mind)
Pikiran adalah anugerah Tuhan yang paling besar dan paling terindah. Dengan memahami cara bekerja dan mengetahui bagaimana cara mendayagunakan kekuatan pikiran, kita dapat menciptakan hal-hal terbaik bagi kehidupan kita. Dengan melatih dan mengembangkan kekuatan pikiran, selain kecerdasan intelektual dan kecerdasan kreatif kita meningkat, juga secara bertahap kecerdasan emosional dan bahkan kecerdasan spiritual kita akan bertumbuh dan berkembang ke tataran yang lebih tinggi.
Semua dari kita berhak dan memiliki kekuatan untuk mencapai kehidupan yang berkelimpahan dan memperoleh hal-hal terbaik dalam kehidupannya. Semuanya ini adalah produk dari pilihan sadar kita, berdasarkan keyakinan kita, dan bukan dari produk kondisi keberadaan kita di masa lalu dan saat ini. Sebagaimana dikatakan oleh Jack Canfield dalam bukunya The Power of Focus, bahwa kehidupan tidak terjadi begitu saja kepada kita. Kehidupan adalah serangkaian pilihan dan bagaimana kita merespons setiap situasi yang terjadi pada kita.
Semoga bermanfaat …
Cara Membuka Usaha Rumah Kost
Bagi Anda yang berada di daerah perkotaan, usaha rumah kost bisa
dijadikan alternatif usaha. Bisa dijadikan usaha sampingan dan mudah.
Tenaga dan waktu Anda bisa dihemat untuk mengerjakan usaha lainnya.
Tempat kost tidak mengenal bangkrut dan semakin diminati, bahkan lebih
banyak peminatnya daripada rumah kostnya. Terbukti, meskipun dunia
ekonomi sempat diguncang krisis global beberapa waktu lalu, namun tak
berpengaruh sedikitpun terhadap peminat rumah kost.
Untuk memulai usaha ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1. Perijinan
Urusan yang satu ini memang penting, jangan sampai saat rumah kost dibangun malah disangka bangunan liar karena tidak memiliki IMB (Ijin Mendirikan Bangunan).
2. Lokasi Strategis
Mayoritas rumah kost dibangun di dekat kampus, perkantoran, dan pabrik. Jika Anda tidak mempunyai lokasi atau tempat sendiri, Anda bisa menyewa rumah. Yang memungkinkan untuk usaha kost-kostan. Diantaranya terdapat banyak kamar, atau ruang luas yang bisa di sekat-sekat menjadi beberapa kamar.
3. Fasilitas
Sediakan fasilitas cuma-cuma bagi penghuni kost, misalnya air minum atau peralatan untuk membersihkan kamar. Dengan begitu penghuni akan merasa betah.
4. Keamanan
Gunakan jasa pengamanan untuk menghindari hal-hal yang tidak dinginkan. Penghuni kost juga butuh kenyamanan saat harus meninggalkan barang-barang berharga di kamar.
Usaha rumah kost mampu mendatangkan pemasukkan tetap tiap bulan. Maka, mempertahankan layanan dan membuat penghuni merasa nyaman adalah suatu keharusan. Untuk pengusaha rumah kost yang ingin meningkatkan pendapatan, menambah jumlah kamar kost akan lebih baik dibanding menaikkan tarif sewa kamar kost.
Untuk memulai usaha ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1. Perijinan
Urusan yang satu ini memang penting, jangan sampai saat rumah kost dibangun malah disangka bangunan liar karena tidak memiliki IMB (Ijin Mendirikan Bangunan).
2. Lokasi Strategis
Mayoritas rumah kost dibangun di dekat kampus, perkantoran, dan pabrik. Jika Anda tidak mempunyai lokasi atau tempat sendiri, Anda bisa menyewa rumah. Yang memungkinkan untuk usaha kost-kostan. Diantaranya terdapat banyak kamar, atau ruang luas yang bisa di sekat-sekat menjadi beberapa kamar.
3. Fasilitas
Sediakan fasilitas cuma-cuma bagi penghuni kost, misalnya air minum atau peralatan untuk membersihkan kamar. Dengan begitu penghuni akan merasa betah.
4. Keamanan
Gunakan jasa pengamanan untuk menghindari hal-hal yang tidak dinginkan. Penghuni kost juga butuh kenyamanan saat harus meninggalkan barang-barang berharga di kamar.
Usaha rumah kost mampu mendatangkan pemasukkan tetap tiap bulan. Maka, mempertahankan layanan dan membuat penghuni merasa nyaman adalah suatu keharusan. Untuk pengusaha rumah kost yang ingin meningkatkan pendapatan, menambah jumlah kamar kost akan lebih baik dibanding menaikkan tarif sewa kamar kost.
Subscribe to:
Comments (Atom)