Sunday, 20 October 2013

Tips Mencetak Anak yang Shaleh dan Cerdas

Setiap orang tentu ingin memiliki anak yang cerdas dan sholeh-sholehah. Cerdas artinya anak mempunyai daya nalar yang baik dan daya tangkap pengertian terhadap lingkungan, sementara anak sholeh artinya anak mempunyai perilaku yang mulia, berakhlak baik, berbudi luhur, dan lainnya. Untuk mencapai hal itu tentu harus ada upaya lahir dan batin sejak ketika memilih pasangan hidup hingga hidup menjadi sepasang suami istri. Usaha-usaha itu antara lain : 1. Memperhatikan Pola Makan Yang Sehat Pengaturan pola makan yang baik sebelum melakukan hubungan suami istri yang menghasilkan janin, sangat besar sekali manfaatnya. Hal ini akan berpengaruh pada kualitas dan kuantitas sperma dan sel telur yang nantinya membentuk janin. Makanlah makanan yang kaya gizi, nutrisi yang cukup dan pola hidup sehat sehingga proses kehamilan akan berlangsung optimal. Jauhi makanan haram karena akan menghasilkan sperma dan sel telur yang tidak baik. Selain itu, seorang ibu hamil harus senantiasa sehat sehingga tidak akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungannya. 2. Ikhlas dan Banyak Bersyukur Kehamilan adalah Anugerah Allah yang harus disyukuri. Artinya, Anda sedang diberi amanah oleh Allah berupa anak. Untuk itu, Anda harus banyak bersyukur atas karunia indah ini dengan cara berbuat baik dengan sesama seperti shodaqoh, beramal baik, dll. serta menjauhi perbuatan jelek, termasuk perilakuperilaku suami (calon ayah) agar menjauhi perbuatan jelek atau maksiat seperti menyakiti manusia maupun binatang agar si jabang bayi diajuhkan dari pengaruh-pengaruh buruk. Terimalah kehamilan itu dengan ikhlas dan senang hati, yakni kehamilan yang benar-benar dikehendaki. Tanpa kasih sayang tumbuh-kembang bayi tidak akan optimal. 3. Perbanyak Doa dan Dzikir Doa adalah manivestasi hubungan hamba dengan sang Khaliq Yang Maha Segalanya. Allah berjanji siapa yang memohon kepadaNya, Dia akan mengabulkannya. Berdoalah agar diberi kekuatan dan kemudahan dari sejak hamil hingga melahirkan. Berdoalah agar bayi yang dilahirkan nanti menjadi anak yang pintar, sehat, dan sholeh. Jangan lupa pula Doa Senggama yang dibaca suami istri setiap kali sebelum melakukan hubungan badan. "Dengan nama Allah, Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan itu dari anugerah (anak) yang akan Engkau berikan kepada kami." 4. Perbanyak Qiyamul Lail Shalat malam terutama di sepertiga malam adalah sarana yang baik untuk menjalin hubngan dengan Allah. Banyak sekali manfaat yang diperoleh dari shalat malam, baik yang bersifat fisik maupun psikis. Diantaranya akan memperkokoh keyakinan dan rasa percaya diri yang diperlukan untuk menghadapi hal-hal yang tidak terduga selama kehamilan dan persalinan. 5. Banyak Membaca Al-Qur`an Membaca Al-Quran selain dapat membuat tentram bagi orang yang membacanya juga orang yang mendengarnya. Terlebih bagi wanita hamil, ia sangat membutuhkan ketenangan dan kenyamanan saat menjalani hari-harinya. Perlu diingat, ketidakstabilan emosi wanita hamil dapat melepaskan zat-zat negatif dalam darahnya yang mengandung rasa tidak nyaman, sehingga secara tidak sadar bayi akan ikut terstimuli dan menjadi tidak stabil. Sebaliknya, menurut psikolog anak Dra. Surastuti Nurdadi, stimuli positif dapat meningkatkan kecerdasan anak sejak dalam kandungan. Apalagi pada usia kehamilan 20 minggu lebih, janin sudah dapat mendengar suara yang datang dari luar. Maka bacaan Al-Quran adalah sebaik-baik bacaan yang perlu diperdengarkan oleh janin, sehingga kelak ia akan terbiasa dengan bacaan Al-Quran. Dengan usaha lahir batin diharapkan kita sebagai orang tua bisa mendapatkan anak-anak yang cerdas, sehat, dan sholeh-sholehah. Semoga kita dijauhkan dari hal-hal yang jelek. Dengan ikhtiar lahir dan batin secara maksimal semoga kita mendapatkan putra-putri yang kita idam-idamkan yakni putra-putri yang sehat, cantik dan tampan, cerdas, sholeh-sholehah yang berguna bagi kebaikan semua. Aamiin

Sunday, 13 October 2013

Hukuman-Hukuman yang Mendidik dan Bermanfaat

Di sana ada hukuman-hukuman yang mendidik dan sukses, pantas bagi seorang pengajar untuk menggunakannya kepada pelajar-pelajar yang menyimpang dari adab-adab pelajaran dan tidak menghormati kedudukan ustadz, yaitu hukuman-hukuman mendidik yang aman dari akibat-akibat yang buruk, yang memberi jaminan kesuksesan dengan kehendak Allah. Hukuman-hukuman tersebut bermacam-macam:
1. Nasihat dan Bimbingan
Ini adalah cara yang pokok dalam kegiatan belajar dan mengajar yang sangat dibutuhkan. Metode ini telah ditempuh oleh guru besar bersama anak-anak atau orangtua-orangtua.
a. Adapun kepada anak-anak, pernah Rasulullah melihat anak yang sedang makan dan tangannya kesana kemari (mengambil di tempat makanan,- pent) maka beliau mengajarinya cara makan.
“Wahai anak, bacalah nama Allah (mengucapkan basmalah) dan makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah yang dekat denganmu.” [Muttafaqun ‘alaih]
Dan jangan sekali-kali seseorang mengatakan bahwa cara pengajaran seperti ini pengaruhnya sedikit pada anak-anak.
Sungguh saya telah menerapkan metode ini beberapa kali, ternyata benar-benar mempunyai pengaruh yang sangat bagus dan telah lalu dalam pembahasan tentang peringatan terhadap perkara-perkara yang berbahaya. Tentang kisah seorang anak yang mencela agama, bagaimana saya menasehatinya dan diapun menerima nasihat.
Ada satu kejadian ketika saya berjalan bersama seorang pengajar. Kami melihat seorang anak kencing di tengah jalan. Maka pengajar tersebut berteriak kepada anak tersebut sambil mengatakan:
“Celaka kamu… Celaka kamu… jangan lakukan!!”
Maka anak itupun terkejut dan memutus kencingnya kemudian lari. Saya katakan kepada pengajar tersebut: “Kamu telah menyia-nyiakan bagi kita nasihat untuk anak tersebut.” Maka dia berkata kepadaku: “Apakah boleh saya mendiamkan anak tersebut kencing di jalan di depan orang banyak?” Saya menjawab: “Tidak.” Pengajar itu berkata: “Lalu apa yang ingin kamu lakukan selain seperti itu?” Saya katakan: “Saya biarkan anak tersebut sampai selesai kencingnya kemudian anak itu saya panggil. Saya perkenalkan diri saya kepadanya, kemudian saya katakan kepadanya: ‘Wahai anakku, sesungguhnya ini adalah jalan umum untuk orang-orang yang lewat, tidak boleh kencing di situ. Dekat dari sini ada tempat buang air sehingga lebih pantas kalau kamu membiasakan kencing di sana sehingga kamu menjadi anak yang terdidik, saya mengharapkan bagimu hidayah dan taufik.’
Maka pengajar itu berkata kepada saya: “Ini adalah cara yang bijaksana dan berfaidah.” Saya katakan kepadanya: “Ini adalah metodenya guru kemanusiaan Muhammad bin Abdillah.”
Dan kejadian beliau dengan seorang Arab gunung kisahnya sangat terkenal, yang akan disebutkan sekarang.
b. Adapun nasihat dan bimbingan untuk orang-orang dewasa maka contoh yang besar pengaruhnya adalah kisah seorang Arab gunung berikut:
dari Anas , dia berkata: Ketika kami sedang berada di masjid bersama Rasulullah tiba-tiba datang seorang Arab gunung kemudian berdiri dan kencing di masjid. Para sahabat Rasulullah berteriak kepada orang tersebut: Hai … hai …(yaitu jangan lakukan). Rasulullah bersabda: Jangan kalian hentikan dia (maksudnya jangan paksa menghentikan kencingnya).
Para sahabatpun membiarkan orang Arab gunung tersebut menyelesaikan kencingnya. Kemudian Rasulullah memanggil orang tersebut: “Sesungguhnya masjid ini tidak boleh sedikitpun dikencingi atau (buang) kotoran yang lain. Tetapui hanyalah masjid itu untuk berdzikir kepada Allah, shalat dan membaca Al-Qur’an.”
Rasulullah bersabda kepada para sahabat: ‘Sesungguhnya engkau diutus untuk mempermudah bukan untuk mempersulit. Siramlah kencing tersebut dengan satu ember air.” Orang Arab gunung itu berkata: “Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad, dan jangan Engkau rahmati seorangpun.” Rasulullah bersabda: “Sungguh kamu telah membatasi sesuatu yang luas.” (yaitu menyempitkan perkara-perkara yang luas). [Muttafaqun ‘aiaih]
2. Bermuka masam
Boleh bagi seorang pengajar untuk kadang-kadang bermuka masam pada wajahnya kepada para pelajarnya apabila melihat keributan atau kekacauan mereka dalam rangka untuk menjaga peraturan sekolah dan kewibawaannya. Ini lebih baik daripada menganggap tidak mampu menghukumnya.
3. Melarang dengan keras
Sering kali yang dipakai pleh pengajar apabila para pelajar banyak mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk menyia-nyiakan pelajaran ataua meremehkan pengajar atau kesalahan-kesalahan yang lain yang sering dilakukan pelajar adalah melarang dengan keras kepada salah seorang dari mereka. Ketika pengajar melarang dengan tegas dan membentak, maka para palajar akan diam dan duduk dengan beradab.
Cara ini digunakan oleh Rasulullah sang pengajar- semoga shalawat dan salam dari Allah senantiasa dilimpahkan kepada beliau- ketika melihat seseorang yang menuntun onta (atau sapi) untuk hadyu (yaitu berkurban di Baitul Haram). Rasulullah bersabda: “Tunggangilah unta tersebut,” Laki-laki itu menjawab: “Sesungguhnya onta ini untuk kurban di Ka’bah wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda: “Tunggangilah!”. Kemudian laki-laki itu manaiki onta yang telah dia jadikan sebagai hadyu, berjalan mengiringi Rasulullah dan sandalnya diletakkan pada leher onta tersebut. [HR. Al-Bukhari]
4. Melarang dari sesuatu
Ketika pengajar melihat sebagian pelajar yang berbicara ketika pelajaran, maka hendaknya pengjar melarang mereka dari pembicaraan mereka dengan suara yang keras. Sesungguhnya Rasulullah telah minta seseorang yang bersendawa di depan beliau. Beliau bersabda kepadanya: “Tahanlah sendawamu.” [Hadits hasan, lihatlah Shahihul Jami’ no. 4367]
(dikutip dari buku Kiat Mendidik Anak, Pustaka Al Haura’)