Pinisi
adalah kapal layar tradisional khas asal Indonesia, yang berasal dari
Suku Bugis dan Suku Makassar di Sulawesi Selatan. Kapal ini umumnya
memiliki dua tiang layar utama dan tujuh buah layar, yaitu tiga di ujung
depan, dua di depan, dan dua di belakang; umumnya digunakan untuk
pengangkutan barang antarpulau. Pinisi adalah sebuah kapal layar yang
menggunakan jenis layar sekunar dengan dua tiang dengan tujuh helai
layar yang mempunyai makna bahwa nenek moyang bangsa Indonesia mampu
mengharungi tujuh samudera besar di dunia
Kapal
kayu Pinisi telah digunakan di Indonesia sejak beberapa abad yang lalu,
diperkirakan[3] kapal pinisi sudah ada sebelum tahun 1500an. Menurut[4]
naskah Lontarak I Babad La Lagaligo pada abad ke 14, Pinisi pertama
sekali dibuat oleh Sawerigading, Putera Mahkota Kerajaan Luwu untuk
berlayar menuju negeri Tiongkok hendak meminang Putri Tiongkok yang
bernama We Cudai.
Sawerigading berhasil ke negeri Tiongkok dan memperisteri Puteri We
Cudai. Setelah beberapa lama tinggal di negeri Tiongkok, Sawerigading
kembali kekampung halamannya dengan menggunakan Pinisinya ke Luwu.
Menjelang masuk perairan Luwu kapal diterjang gelombang besar dan Pinisi
terbelah tiga yang terdampar di desa Ara, Tanah Beru dan Lemo-lemo.
Masyarakat ketiga desa tersebut kemudian merakit pecahan kapal tersebut
menjadi perahu yang kemudian dinamakan Pinisi.
DI ujung
selatan semenanjung Sulawesi Selatan, sekitar 153 kilometer dari Kota
Makassar, terletak sebuah kabupaten bernama Bulukumba, yang menyimpan
keindahan tersembunyi di pantainya yang masih asli dengan taman laut
bawah air dan juga budaya maritim yang unik. Kabupaten ini dikenal
penduduk lokal dengan nama Butta Panrita Lopi atau Tanah dari Kapal
Layar Pinisi.
Bulukumba mendapat julukan tersebut karena tempat ini merupakan tempat
lahirnya kapal pinisi yang terkenal. kapal layar Pinisi telah dibangun
di sini sejak abad ke 14. Kapal ini sebagian besar dibuat di daerah yang
disebut Tanah Beru, 176 kilometer dari Kota Makassar.
Di Tanah
Beru, Anda akan melihat puluhan dermaga kering di mana Kapal Layar
Pinisi berada dalam berbagai tahap konstruksi. Kerajinan tangan khas
Bugis yang terbentuk dalam Kapal Pinisi ini menjadi ikon pelaut
Indonesia.
Setelah melihat bagaimana cara membuat Kapal Pinisi, manjakan diri Anda
dengan beristirahat di bagian selatan Bulukumba, tepatnya di Tanjung
Bira. Tanjung Bira merupakan pantai berpasir putih yang indah dan luas,
tempat yang pas untuk menyaksikan pemandangan matahari terbenam. Tanjung
Bira juga tempat yang cocok untuk snorkeling, karena terumbu karang dan
ramainya ikan-ikan tropis yang indah di bawah lautnya.
Bulukumba didiami etnis khusus yang disebut Kajang. Etnis ini selama
berabad-abad tinggal d daerah pedalaman yang disebut Tana Toa, yang
masih mempraktekkan ajaran dan tradisi kuno dalam kesehariannya. Mereka
hidup dalam kesederhanaan, di rumah tanpa furnitur, listrik maupun
peralatan modern lainnya. Untuk mencapai Bulukumba, dapat menggunakan
bis dari terminal Malengkeri di Makassar selama kurang lebih dua hingga
tiga jam.
No comments:
Post a Comment